Jumat, 05 Juni 2015



BIOGEOGRAFI TERPADU DENGAN STRATEGI LESSON STUDY  BERBASIS STRUKTURAL NUMBERED HEAD TOGETHER UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATERI KEANEKARAGAMAN HAYATI KELAS X   SMA N 1 DEMAK


PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Proses pembelajaran rumpun Biologi yang berlangsung selama ini di tingkat SMP sampai dengan SMA cenderung terkotak-kotak. Dengan adanya situasi ini, siswa cenderung memahami suatu konsep Biologi sebagai sesuatu yang terpisah-pisah, yaitu baik dari segi biologi, fisika , geografi maupun kimia. Hal ini tentu saja memungkinkan terjadinya overlapping, karena apa yang dibahas pada bidang-bidang tersebut tentu saja banyak yang bersinggungan. Untuk mengatasi ketidaksamaan pembahasan terhadap suatu konsep IPA atau yang serumpun, maka perlu dikembangkan suatu pembelajaran Biologi terpadu .
Pembelajaran Biologi terpadu  atau serumpun merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dianjurkan untuk diaplikasikan pada jenjang pendidikan, mulai dari tingkat Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) sampai dengan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA). Model pembelajaran ini pada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 2002). Melalui pembelajaran Biologi terpadu atau serumpun peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk mencari, menyimpan, dan menerapkan konsep yang telah dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara menyeluruh (holistik), bermakna, otentik dan aktif. Cara pengemasan pengalaman belajar yang dirancang guru sangat berpengaruh pada kebermaknaan pengalaman bagi para peserta didik. Pengalaman belajar yang lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual akan menjadikan proses belajar lebih efektif. Kaitan konseptual yang dipelajari dengan sisi bidang kajian Rumpun Biologi yang relevan akan membentuk skema kognitif, sehingga anak memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Perolehan keutuhan belajar rumpun Biologi serta kebulatan pandangan tentang kehidupan, dunia nyata dan fenomena alam hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran biologi terpadu,oleh karena itu perlu dikembangkan pembelajaran yang serumpun yaitu pembelajaran Biogeografi sebagai manifestasi dari konsep Biologi dan Geografi yang relevan dan berkesinambungan.
Untuk mendapatkan pembelajaran Biogeografi yang benar-benar utuh dan saling berkesinambungan, dibutuhkan kerjasama antara guru-guru Biologi dan Geografi dengan cara bertukar pikiran membuat suatu perangkat pembelajaran yang memadai sehingga mampu menyajikan suatu pembelajaran Biogeogarfi yang terpadu. Untuk mencapai hal tersebut dapat dilakukan dengan pengembangan perangkat melalui lesson study, yang bertumpu pada peningkatan profesionalitas guru sehingga nantinya akan berimplikasi positif terhadap kualitas proses maupun hasil pembelajaran. Menurut Sudrajat (2008), lesson study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru. Melalui penggunaan lesson study, guru dapat melakukan review terhadap kinerjanya yang selanjutnya dapat digunakan sebagai masukan untuk memperbaiki kinerjanya. Wawasan guru juga akan berkembang dan termotivasi untuk selalu berinovasi yang selanjutnya akan menjadi guru yang profesional.
            Pembelajaran Biogeogafi terpadu dengan melalui lesson study diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, khususnya menghasilkan guru-guru yang profesional pada bidangnya, yang dalam hal ini adalah Biologi dan Geografi. Dengan adanya peningkatan profesionalitas guru, maka diharapkan akan terjadi peningkatan pada kualitas siswa, baik dari segi kognitif, afektif maupun psikomotorik.
Penggunaan model pembelajaran  sangat berkaitan dengan kondisi awal yang ada di sekolah tempat penelitian diadakan. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Biologi di sekolah tersebut, diketahui bahwa selama ini dalam pembelajaran Biologi lebih mengedepankan pada kemampuan aspek kognitif siswa, Hal ini sangat disayangkan, karena tujuan dari pendidikan bukan hanya untuk mencerdaskan siswa dalam segi kognitif, melainkan dalam segi yang lain juga, yaitu afektif dan psikomotorik. Hal ini dapat difahami, mungkin guru tersebut menekankan aspek kognitif berkaitan dengan kebijakan pemerintah terkait Ujian Nasional (UN). Koswara (2011) mengungkapkan bahwa dengan adanya UN mengakibatkan berkembangnya sikap ketidakjujuran karena setiap orang berorientasi pada nilai hasil UN sehingga dalam banyak kasus siswa atau bahkan guru mulai menghalalkan berbagai cara agar lulus UN. Selain itu, perkembangan aspek psikomotorik siswa juga semakin tidak diperhatikan, karena yang menjadi acuan adalah kelulusan dalam UN. Dengan adanya realita seperti itu, perlu dikembangkan kembali pembelajaran yang dapat meningkatkan aspek-aspek kecerdasan siswa yang tidak hanya bertumpu pada aspek kognitif, salah satunya yaitu dengan penerapan model pembelajaran struktural Numbered Head Together.
Pengembangan pembelajaran Biogeografi terpadu dengan lesson study dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip learning by doing yang artinya bahwa dalam proses pembelajaran hendaknya menciptakan kesempatan siswa untuk mengalami secara nyata yang dipelajari terkait dengan kehidupan dan dunia nyata. Pendekatan kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada siswa dan apa yang akan dikerjakan oleh siswa. Hal ini karena ada kecenderungan untuk kembali kepada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” apa yang dipelajarinya bukan “mengetahuinya”. Pengambilan topik ini dipilih materi biogeografi  yaitu gabungan antara materi biologi  dan geografi sub materi Keanekaragaman Hayati. Beberapa keterampilan dapat dilakukan melalui kegiatan pembelajaran kolaboratif dengan strategi lesson study dengan model pembelajaran struktural Numbered Head Together . Sebagaimana diketahui, materi keanekaragaman hayati dengan unsur-unsur bioma sangat erat kaitannya dengan kegiatan sehari-hari. Sebagai contoh, peristiwa siklus air dapat dikombinasikan antara faktor-faktor yang mempengaruhi siklus air dengan pengamatan hidrosfer meliputi iklim, salinitas, sedangkan praktikum bisa berkolaborasi dengan pengamatan ekosistem dan jenis perairan. Hal ini menunjukkan materi ini sangat cocok untuk dikembangkan dengan strategi lesson study. Diharapkan, dengan kegiatan pembelajaran kolaboratif yang dilakukan, akan meningkatkan keterampilan proses sains pada siswa, serta meningkatkan motivasi siswa karena mempelajari sesuatu yang sangat erat dengan kehidupannya.
Dengan penggunaan  Biogeografi Terpadu  melalui lesson study yang dalam pelaksanaannya dilakukan kegiatan praktikum maka materi yang dipelajari dikaitkan dengan lingkungan sekitar siswa, salah satunya terlihat  pada    kegiatan    praktikum keanekaraman hayati. Hal ini juga untuk mengantisipasi kekurangan di sekolah tersebut yang minim bahan dan alat praktikum, karena bahan yang digunakan sangat mudah didapatkan dan biasa digunakan sehari-hari. Berdasarkan fenomena di atas penulis mencoba untuk mengangkat permasalahan dengan judul penelitian : BIOGEOGRAFI TERPADU  DENGAN STRATEGI LESSON STUDY  BERBASIS STRUKTURAL NUMBERED HEAD TOGETHER MATERI KENANEKARAGAMAN HAYATI  KELAS  X 1  SMA N 1 DEMAK TAHUN PELAJARAN 2012/2013.

B.     Perumusan Masalah

                    Bertitik tolak pada uraian di atas, permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Apakah  Pembelajaran Biogeografi Terpadu dengan strategi lesson study berbasis Struktural Numbered Head Together materi keanekaragaman hayati berpengaruh terhadap hasil belajar biologi pada materi keanekaragaman hayati  kelas XI semester II di SMA Negeri 1 Demak tahun pelajaran 2012 / 2013 ?”.

C.    Tujuan Penelitian

               Untuk menganalisa Pengaruh  Pembelajaran Biogeografi Terpadu dengan strategi klesson study Berbasis Struktural Numbered Head Together terhadap Hasil Belajar pada materi keanekaragaman hayati pada siswa kelas XI semester II SMA  Negeri 1 Demak tahun pelajaran 2012 / 2013”.

D.    Manfaat Penelitian

      Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1.      Untuk memacu siswa lebih interaktif bagi penguasaan materi pelajaran dan prestasi belajar
2.      Untuk meningkatkan kemampuan profesional guru khususnya peningkatan kualitas pembelajaran


















BAB II
KERANGKA TEORITIS BERFIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A.    Kerangka Teoritis
1.      Kekuatan dan Kelemahan Pembelajaran Terpadu
Depdiknas (2003) mengungkapkan bahwa walaupun standar kompetensi dan kompetensi dasar IPA dikembangkan dalam bidang kajian, pada tingkat pelaksanaan guru memiliki keleluasaan dalam membelajarkan peserta didiknya untuk mencapai kompetensi tersebut. Salah satu contoh yang akan dikembangkan dalam model ini adalah guru dapat mengidentifikasi standar kompetensi, kompetensi dasar yang dekat dan relevan untuk dikemas dalam satu tema kemudian disajikan dalam kegiatan pembelajaran yang terpadu. Hal yang perlu diperhatikan ialah pemaduan kegiatan dalam bentuk tema sebaiknya dilakukan pada jenjang kelas yang sama dan masih dalam lingkup IPA sehingga memudahkan untuk penilaian.
Kekuatan/manfaat yang dapat dipetik melalui pelaksanaan pembelajaran Biogeografi terpadu antara lain sebagai berikut.
(a)  Dengan menggabungkan berbagai bidang kajian akan terjadi penghematan waktu, karena  dua kajian tersebut (Keanekaragaman Hayati) dapat dibelajarkan sekaligus. Tumpang tindih materi juga dapat dikurangi bahkan dihilangkan.
(b) Peserta didik dapat melihat hubungan yang bermakna antara konsep Keanekaragaman Hayati dari 2 konsep biologi dan geografi.
(c)  Meningkatkan taraf kecakapan berpikir peserta didik, karena peserta didik dihadapkan pada gagasan atau pemikiran yang lebih luas dan dalam ketika menghadapi situasi pembelajaran.
(d)  Pembelajaran Biogeografi terpadu menyajikan penerapan/aplikasi tentang dunia nyata yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga memudahkan pemahaman konsep dan kepemilikan kompetensi Biologi dan Geografi.
(e)   Motivasi belajar peserta didik dapat diperbaiki dan ditingkatkan.
(f)  Pembelajaran  Biogeografi terpadu membantu menciptakan struktur kognitif yang dapat menjembatani antara pengetahuan awal peserta didik dengan pengalamanbelajar yang terkait, sehngga pemahaman siswa menjadi lebih terorganisasi dan mendalam, dan memudahkan memahami hubungan materi  Biologi dengan Geografi dari satu konteks ke konteks lainnya.
(g)  Akan terjadi peningkatan kerja sama antarguru bidang kajian terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, peserta didik/guru dengan narasumber; sehingga belajar lebih menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang lebih bermakna.
Di samping kekuatan/manfaat yang dikemukakan itu, model pembelajaran Biogeografi Terpadu juga memiliki kelemahan. Perlu disadari, bahwa sebenarnya tidak ada model pembelajaran yang cocok untuk semua konsep. Oleh karena itu model pembelajaran harus disesuaikan dengan konsep yang akan diajarkan (Depdiknas, 2003). Begitu pula dengan pembelajaran Biogografi terpadu  memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut ini.
(a) Aspek Guru: Pembelajaran terpadu menuntut guru yang berwawasan luas, memiliki kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang handal, rasa percaya diri yang tinggi, dan berani mengemas dan mengembangkan materi, bersedia mengembangkan diri untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada bidang kajian tertentu saja.
(b) Aspek peserta didik: Pembelajaran terpadu menuntut kemampuan belajar peserta didik yang relatif “baik”, baik dalam kemampuan akademik maupun kreativitasnya. Hal ini terjadi karena model pembelajaran terpadu menekankan pada kemampuan analitik (mengurai), kemampuan asosiatif (menghubung-hubungkan), kemampuan eksploratif dan elaboratif (menemukan dan menggali).
(c) Aspek sarana dan sumber pembelajaran: Pembelajaran terpadu memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan bervariasi, termasuk juga fasilitas internet untuk menunjang, memperkaya, dan mempermudah pengembangan wawasan. Semua ini dapat diatasi karena internet mudah diakses dan warnet mudah ditemukan.
(d) Aspek kurikulum: Kurikulum harus luwes, berorientasi pada pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada pencapaian target penyampaian materi). Guru mempunyai kewenangan dalam mengembangkan materi, metode, penilaian keberhasilan pembelajaran peserta didik.
(e) Aspek penilaian: Pembelajaran terpadu membutuhkan cara penilaian yang menyeluruh (komprehensif), dalam menetapkan keberhasilan belajar peserta didik dengan penilaian yang bervariasi serta berkoordinasi dengan guru lain, bila materi pelajaran berasal dari guru yang berbeda.
Sekalipun pembelajaran Biogeografi terpadu mengandung beberapa kelemahan selain keunggulannya, sebagai sebuah bentuk inovasi dalam implementasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar perlu dikembangkan lebih lanjut. Untuk mengurangi kelemahan-kelemahan di atas, perlu dibahas bersama antara guru bidang kajian terkait dengan sikap terbuka. Kesemuanya ini ditujukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pembelajaran IPA.
2.  Pemaduan Konsep Dalam Pembelajaran Biogeografi
Salah satu kunci pembelajaran terpadu yang terdiri atas beberapa bidang kajian adalah menyediakan lingkungan belajar yang menempatkan peserta didik mendapat pengalaman belajar yang dapat menghubungkan konsep-konsep dari berbagai bidang kajian. Pengertian terpadu di sini mengandung makna menghubungkan IPA dengan berbagai bidang kajian (Carin dalam Depdiknas, 2005). Lintas bidang kajian dalam IPA adalah mengkoordinasikan berbagai disiplin ilmu seperti makhluk hidup dan proses kehidupan, energi dan perubahannya, materi dan sifatnya, geologi, dan astronomi. Sebenarnya IPA dapat juga dipadukan dengan bidang kajian lain di luar bidang kajian IPA dan hal ini lebih sesuai untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Mengingat pembahasan materi IPA pada tingkat lebih tinggi semakin luas dan mendalam, maka pada jenjang pendidikan SMP/MTs dan SMA/MA, akan lebih baik bila keterpaduan dibatasi pada bidang kajian yang termasuk bidang kajian IPA saja. Hal ini dimaksudkan agar tidak terlalu banyak guru yang terlibat, yang akan membuka peluang timbulnya kesulitan dalam pembelajaran dan penilaian. Mengingat semakin tinggi jenjang pendidikan, maka semakin dalam dan luas pula pemahaman konsep yang harus diserap oleh peserta didik.
Pembelajaran terpadu diawali dengan penentuan TEMA, karena penentuan tema akan membantu peserta didik dalam beberapa aspek yaitu:
(a) peserta didik yang bekerja sama dengan kelompoknya akan lebih bertanggung jawab, berdisiplin, dan mandiri;
(b) peserta didik menjadi lebih percaya diri dan termotivas dalam belajar bila mereka berhasil menerapkan apa yang telah dipelajarinya;
(c) peserta didik lebih memahami dan lebih mudah mengingat karena mereka ‘mendengar’, ‘berbicara’, ‘membaca’, ‘menulis’ dan ‘melakukan’ kegiatan menyelidiki masalah yang sedang dipelajarinya;
(d) memperkuat kemampuan berbahasa peserta didik;
(e) belajar akan lebih baik bila peserta didik terlibat secara aktif melalui tugas proyek, kolaborasi, dan berinteraksi dengan teman, guru, dan dunia nyata.
Oleh karena itu, jika guru hendak melakukan pembelajaran Biogeografi terpadu , sebaiknya memilih tema yang menghubungkan antara Biologi–geografi - lingkungan- teknologi-masyarakat
3.       Pelaksanaan Lesson study
Robinson (2006) mengusulkan ada delapan tahap berdasarkan pada banyaknya kegiatan yang diperlukan dalam pelaksanaan lesson study, yakni:
Tahap 1: Pemilihan topik lesson study
Tahap 2: Melakukan review silabus untuk mendapatkan kejelasan tujuan pembelajaran untuk topik tersebut dan mencari ide-ide dari materi yang ada dalam buku pelajaran. Selajutnya bekerja dalam kelompok untuk menyusun rencana pembelajaran.
Tahap 3: Mendiskusikan rencana pembelajaran yang telah dibuat, kemudian setiap orang memberikan masukan dan didiskusikan bersama.
Tahap 4: Memperbaiki rencana pembelajaran berdasarkan diskusi yang telah dilakukan.
Tahap 5: Mendiskusikan kembali rencana pembelajarannya yang telah diperbaiki.
Tahap 6: Melakukan perbaikan rencana pembelajaran secara lebih detail.
Tahap 7: Para guru mempelajari kembali tentang rencana pembelajaran tersebut dan mempertimbangkannya dari berbagai aspek pengalaman pembelajaran yang mereka miliki, khususnya difokuskan pada hal-hal yang penting seperti : hal-hal yang akan dilakukan guru, pemahaman siswa, proses pemecahan oleh murid, dan kemungkinan yang akan terjadi dalam implementasi pembelajarannya.
Tahap 8: Salah satu guru melaksanakan rencana pembelajaran di kelas, sementara guru yang lain mengamati sesuai dengan tugas masing-masing untuk memberi masukan pada guru. Pertemuan refleksi segera dilakukan secepatnya setelah kegiatan pelaksanaan pembelajaran, untuk memperoleh masukan dari guru observer, dan akhirnya komentar dari dosen atau pakar luar tentang keseluruhan proses serta saran sebagai peningkatan pembelajaran, jika mereka mengulang di kelas masing-masing atau untuk topik yang berbeda.
4.      Strategi Lesson Study
Marsigit (2007) menemukan bahwa kegiatan lesson study  dapat meningkatkan antusiasme siswa, motivasi, kegiatan, dan kinerja. Disamping itu juga meningkatkan profesionalisme guru dalam hal kinerja pengajaran, variasi metode pengajaran/pendekatan, serta kolaborasi. Siswa menikmati belajar sains selama kegiatan Lesson study karena beberapa alasan, diantaranya adalah pelajaran tidak begitu formal, isi lebih mudah dipahami, siswa mampu mengekspresikan ide-ide mereka, para siswa mendapat banyak waktu untuk mendiskusikan dengan teman sekelas mereka, dan siswa menjadi lebih berpengalaman dalam sains. Lebih lanjut, guru mengembangkan metode alternatif untuk membiarkan mereka untuk belajar dan membangun konsep-konsep mereka sendiri. Namun, guru memerlukan lebih banyak waktu untuk membiasakan diri mengembangkan model mengajar oleh mereka sendiri. Proyek Lesson study terbukti sangat efektif dalam mengangkat antusiasme siswa dalam belajar sains, dalam membantu siswa untuk mengembangkan eksperimental dan keterampilan diskusi, serta memberikan kesempatan kepada siswa dalam mengembangkan konsep ilmiah mereka sendiri sendiri.
5.             Hasil Belajar
Para pakar teori belajar pada umumnya membedakan dua macam pengetahuan, yakni pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan deklaratif (dapat diungkapkan dengan kata-kata) adalah pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu (Kardi dan Nur, 2000 : 4 ).
Para guru selalu menghendaki agar siswa-siswa memperoleh hasil belajar yang lebih baik dengan menggunakan kedua macam pengetahuan tersebut, supaya mereka dapat melakukan suatu kegiatan dan melakukan segala sesuatu dengan berhasil (Trianto, 2007 : 29-30). Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak – tidaknya tiga tujuan instruksional penting, yaitu :
a.       Hasil belajar akademik
Meskipun pembelajaran kooperatif meliputi berbagai macam tujuan sosial, pembelajaran kooperatif juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.
b.      Penerimaan terhadap keragaman
Pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik memalui proses tutorial (bantuan khusus dari teman sebaya yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama).
c.       Pengembangan ketrampilan sosial
Pembelajaran kooperatif juga memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas – tugas bersama, melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain  
( Ibrahim dkk, 2001 : 7-9).
6.             Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif bergantung pada kelompok-kelompok kecil si pebelajar. Meskipun isi dan petunjuk yang diberikan oleh guru mencirikan bagian dari pengajaran.
Namun pembelajaran kooperatif secara berhati-hati menggabungkan kelompok-kelompok kecil sehingga anggota-anggotanya dapat bekerja bersama-sama untuk memaksimalkan pembelajaran dirinya dan pembelajaran  satu sama lainnya. Masing-masing anggota kelompok bertanggungjawab untuk mempelajari apa yang disajikan dan membantu teman anggotanya untuk belajar. Ketika kerjasama ini berlangsung, tim menciptakan atmosfir pencapaian, dan selanjutnya pembelajaran ditingkatkan ( Karen L. Medsker and Kristina M. Holdsworth, 2001 ,h.287 ,disadur dari Trimanjuniarso.wordpress. com).
Pembelajaran Kooperatif mengacu pada metoda pengajaran di mana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Kebanyakan siswa dalam kelompok yang terdiri dari 4 (empat) siswa yang mempunyai kemampuan yang berbeda (Slavin, 1994 disadur dari Trimanjuniarso.wordpress.com), dan ada yang menggunakan ukuran kelompok yang berbeda-beda (Cohen, 1986; Johnson & Johnson, 1994; Kagan, 1992; Sharan &Sharan, 1992, disadur dari trimanjuniarso.wordpress.com).
Ciri khas Pembelajaran Kooperatif, yaitu siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kooperatif dan diberi pelatihan tentang bagaimana dapat bekerja sama yang baik dalam hal :
-       Bagaimana menjadi pendengar yang baik
-       Bagaimana memberi penjelasan yang baik
-       Bagaimana cara mengajukan pertanyaan dengan benar dan lain-lainnya.
Aktifitas Pembelajaran Kooperatif daapat memainkan banyak peran dalam pelajaran. Dalam pelajaran tertentu Pembelajaran Kooperatif dapat digunakan 3 (tiga) tujuan berbeda yaitu :
Dalam pembelajaran tertentu siswa sebagai kelompok yang berupaya menemukan sesuatu, kemudian setelah jam pelajaran habis, siswa dapat bekerja sebagai kelompok-kelompok diskusi dan setelah itu siswa akan mendapat kesempatan bekerja sama untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai segala sesuatu yang telah dipelajarinya untuk persiapan kuis, bekerja dalam suatu format belajar kelompok.
7.             Unsur-unsur Model Pembelajaran Kooperatif
Pengajaran harus dirancang secara berhati-hati sehingga setiap partisipan terlibat dalam proyek pengajaran dengan mengambil peranan yang berbeda seperti peranan pemimpin, misalnya pengajar harus menyusun kelompok-kelompok kecil sehingga semua partisipan menggunakan peranan kepempimpinan dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan bersama (Johnson, 1993, dikutip dari Trimanjuniarso.wordpress.com)
Pembelajaran kooperatif tidak merancang pengajaran seperti cara kompetitif atau indvidualistis dalam pelaksanaannya. Ketika pembelajaran berlangsung dalam sebuah lingkungan belajar yang kompetitif, maka partisipan cenderung bekerja dengan partisipan lainnya untuk mendapatkan sebuah tujuan yang mereka rasakan hanya bisa didapatkan oleh sejumlah kecil partisipan. Unsur – unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
a.       Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama.
b.      Siswa bertanggungjawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
c.     Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memilki tujuan yang sama.
d.   Siswa haruslah membagi tugas dan tanggungjawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
e.    Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah / penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompoknya.
f.    Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan ketrampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
g.   Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
h.   Kebanyakan pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki ciri – ciri sebagai berikut :
1)         Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
2)         Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda – beda.
3)         Penghargaan lebih berorientasi kelompok dibanding individu.
4)         Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak – tidaknya tiga tujuan instruksional penting, yaitu :
a)                Hasil belajar akademik
                    Meskipun pembelajaran kooperatif meliputi berbagai macam tujuan sosial, pembelajaran kooperatif juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas – tugas akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.
b)               Penerimaan terhadap keragaman
                   Pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja sama menyelesaikan tugas – tugas akademik memalui proses tutorial (bantuan khusus dari teman sebaya yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama).
c)               Pengembangan ketrampilan sosial
                        Pembelajaran kooperatif juga memberi peluang kepada siswa yang      berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas – tugas bersama, melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain (Suyatman, 2005 : 24-25).
8.      Ruang Lingkup Pembelajaran Kooperatif
a.       Landasan Pemikiran
Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi hakikat social dan penggunaan kelompok- kelompok kecil Semua model mengajar ditandai dengan  adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan (reward). Model pembelajaran kooperatif menuntut yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain saling membantu. Tujuan dibentuknya kelompok tersebut adalah untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat aktif dalam proses berfikir dan kegiatan belajar. Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh guru, dan saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar.
Selama belajar secara kooperatif siswa tetap tinggal dalam kelompoknya selama beberapa kali pertemuan. Mereka diajarkan ketrampilan-ketrampilan khusus agar  dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi menjadi pendengar aktif, memberikan  penjelasan kepada sekelompok dengan baik, berdiskusi, dan sebagainya. Kegiatannya diantaranya siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi. Belajar belum selesai jika salah satu anggota kelompok ada yang belum menguasai materi pelajaran. (Trianto, 2007 : 41-42). 
b.      Fase-Fase Model Pembelajaran Kooperatif
Terdapat enam fase utama atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif, yaitu :
FASE
TINGKAH LAKU GURU
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa.


Fase 2
Menyajikan informasi.


Fase 3
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok – kelompok belajar.


Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar.

Fase 5
Evaluasi



Fase 6
Memberikan penghargaan.
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dam memotivasi siswa belajar.

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demontrasi atau lewat bahan bacaan.

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar agar melakukan transisi secara efisien.

Guru membimbing kelompok –kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing – masing kelompok mempresentasikan hasil kinerjanya.

Guru mencari cara – cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
(Trianto, 2007 : 48-49, dari sumber : Ibrahim, 2000 : 10)

c.       Lingkungan Belajar Siswa dan Sistem Manajemen
Pembelajaran kooperatif bertitik tolak dari pandangan John Dewey dan Herbert Thelan ( dalam Ibrahim, 2000) yang menyatakan pendidikan dalam masyarakat yang demokratis seyogyanya mengajarkan proses demokrasi secara langsung .Lingkungan belajar untuk pembelajaran kooperatif dicirikan oleh proses demokrasi dan peran aktif siswa dalam menentukan apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya, sedangkan guru yang menerapkan suatu struktur tingkat tinggi dalam pembentukan kelompok dan mendefinisikan semua prosedur.
Selain unggul dalam membantu siswa memahami konsep – konsep sulit, model ini sangat berguna untuk membantu siswa menumbuhkan kemampuan bekerjasama, berfikir kritis, dan kemampuan membantu teman (Trianto, 2007 : 45 dari sumber : Ibrahim Muslimin, dkk, 2000 : 11).
9.             Teori-teori Yang Mendasari Nilai Kooperatif
Mengapa siswa yang bekerja dalam kelompok kooperatif belajar lebih banyak dibandingkan dengan kelas yang diorganisasikan secara tradisional?
Berikut ini beberapa teori yang mendasarinya :
a.       Teori Motivasi
Menurut teori motivasi, motivasi siswa pada pembelajaran kooperatif terutama terletak pada bagaimana bentuk hadiah atau struktur pencapaian tujuan saat siswa melaksanakan kegiatan. Diidentifikasikan ada tiga macam struktur pencapaian tujuan seperti berikut ini :
1)      Kooperatif, dimana upaya – upaya berorientasi tujuan tiap individu menyumbang pencapaian tujuan individu lain. Siswa yakin bahwa tujuan mereka tercapai jika dan hanya jika siswa lain akan mencapai tujuan tersebut.
2)      Kompetitif, dimana upaya – upaya berorientasi tujuan tiap individu membuat frustasi pencapaian tujuan individu yang lain. Siswa percaya bahwa mereka akan mencapai tujuan mereka jika dan hanya jika siswa lain tidak mencapai tujuan tersebut.
3)      Individualistik, dimana upaya – upaya berorientasi tujuan tiap individu memiliki konsekuensi terhadap pencapaian tujuan individu lain. Siswa yakin upaya mereka sendiri untuk mencapai tujuan tidak ada hubungannya dengan upaya siswa lain dalam mencapai tujuan tersebut.
Menurut pandangan teori motivasi, struktur tujuan kooperatif menciptakan suatu situasi dimana satu – satunya cara agar anggota kelompok dapat mencapai tujuan pribadi mereka sendiri hanya apabila kelompok itu berhasil. Kritik teori motivasi terhadap pengorganisasian kelas secara tradisional adalah bahwa pemberian ranking prestasi belajar yang kooperatif dan sistem penghargaan yang tidak formal terhadap kelas menciptakan norma kelas yang memperlemah upaya – upaya akademik.
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa tujuan kooperatif menciptakan norma – norma pro akademik di kalangan siswa, dan norma – norma pro akademik itu memiliki pengaruh penting kepada hasil belajar siswa.
b.      Teori Kognitif
Teori – teori kognitif menekankan pengaruh bekerja dalam suasana kebersamaan di dalam kelompok itu sendiri (apakah kelompok mencoba mencapai suatu tujuan kelompok atau tidak).
Teori – teori kognitif dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu :
1)      Teori perkembangan
Asumsi dasar dari teori perkembangan adalah interaksi antar siswa disekitar tugas – tugas yang sesuai meningkatkan penguasaan mereka terhadap konsep – konsep yang sulit. Menurut Vygotsky dalam bukunya Muhammad Nur dkk (2001 : 7) mendefinisikan zone of proximal development sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah dibawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampi.
2)      Teori elobarasi kognitif
Pandangan teori elaborasi kognitif amat berbeda dengan pandangan teori perkembangan. Penelitian dalam psikologi kognitif telah menemukan bahwa apabila informasi harus tinggal dalam memori dan terkait dengan informasi yang telah ada dalam memori, siswa harus terlibat dalam beberapa macam kegiatan terstruktur atau elaborasi kognitif atas suatu materi. Salah satu cara elaborasi yang efektif adalah menjelaskan materi kepada orang lain. (Suyatman, 2005 : 12)
10.  Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif
a.       Pembelajaran Kooperatif dengan Berbasis Struktural
Pendekatan berbasis structural ini dikembangakan oleh Spencer Kagen dkk (1993), penedekatan ini member penekanan pada penggunaan struktur yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Kagen menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil dan lebih menekankan pada penghargaan kooperatif daripada individual. Ada struktur yang dikembangkan untuk meningkatkan perolehan akademik ada juga yang dirancang untuk mengajarkan ketrampilan social atau ketrampilan kelompok
Dalam pendekatan ini, ada struktur yang dikembangkan untuk meningkatkan perolehan isi akademik, dan ada struktur yang dirancang untuk mengajarkan ketrampilan sosial atau ketrampilan kelompok. Ada 1 macam struktur yang dikembangkan untuk mengajarkan isi akademik atau untuk men-cek pemahaman siswa terhadap isi tertentu yaitu  Numbered-head-together.
b.      Numbered-head-together
Dikembangkan oleh Spencer Kagen dalam bukunya Muslimin Ibrahim (2001 : 28) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Sebagai gantinya, guru mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, dengan struktur empat langkah, yaitu :
Langkah-1     :    Penomoran. Guru membagi siswa kedalam kelompok beranggota 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.
Langkah-2     :    Mengajukan pertanyaan. Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya.
Langkah-3     :    Berpikir Bersama. Siswa menyatakan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu.
Langkah-4     :    Menjawab. Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. (Trianto, 2007 : 62-63)
c.       Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif
1.      Dengan pembelajaran kooperatif pada siswa, berarti sekolah :
a)      Mengembangkan dan menggunakan ketrampilan berfikir kritis dan kerjasama kelompok.
b)      Menyuburkan hubungan antara pribadi yang positif diantara siswa yang berasal dari latar belakang (suku, tingkat sosial ekonomi, kepandaian, dll) yang berbeda.
c)      Menerapkan bimbingan oleh teman (Peer Coaching).
d)     Menciptakan lingkungan yang menghargai (menghormati) nilai – nilai ilmiah.
e)      Membangun sekolah dalam suasana kerjasama.
2.      Di samping itu, keuntungan pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan hasil belajar rendah :
a)       Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas.
b)       Rasa harga diri menjadi lebih tinggi.
c)       Memperbaiki sikap terhadap IPA dan sekolah.
d)      Memperbaiki kehadiran.
e)       Angka putus sekolah menjadi rendah.
f)        Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar.
g)       Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil.
h)       Konflik antar pribadi berkurang.
i)         Sikap apatis berkurang.
j)         Pemahaman yang lebih mendalam
k)       Motivasi lebih besar.
l)         Hasil belajar lebih tinggi.
m)     Retensi lebih lama.
n)       Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi.
(Suyatman,2005 :62-63)
Adapun kelemahan dari pembelajaran kooperatif, yaitu apabila pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang baru diketahui, kemungkinan yang dapat timbul adalah sejumlah siswa bingung, sebagian mungkin kehilangan rasa percaya diri, dan saling mengganggu antar siswa.

B.                       Kerangka Berfikir
Kerangka berfikir pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.
Permasalahan
Pembelajaran Biologi serumpun belum sepenuhnya dilaksanakan secara terpadu, karena:
-          Latar belakang ilmu yang dimiliki guru per bidang study.
-          Kurangnya motivasi guru untuk memperbaiki model pembelajaran yang digunakan.
-          Fokus pembelajaran hanya pada ketuntasan nilai.
Struktural Numbered Together
Biogeografi terpadu melalui lesson study
-          Penyampaian Biogeografi  secara terpadu, utuh dan menyeluruh
-          Pembiasaan keterampilan proses sains dengan kegiatan praktikum
-          Menumbuhkan motivasi siswa karena materi yang dikaitkan dengan lingkungan sekitar
-          Peningkatan profesionalitas guru melalui lesson study mampu memberikan hasil belajar yang baik pada siswa.
Biogeografi terpadu yang efektif untuk menumbuhkan keterampilan proses sains dan motivasi belajar serta ketuntasan belajar siswa
Lesson study
 



















Gambar 1. Diagram Kerangka Berfikir
C.          Hipotesis Tindakan
            Hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini adalah melalui implementasi pembelajaran biogeografi terpadu dengan strategi lesson study berbasis struktural numbered head together hasil belajar siswa kelas X 1 SMA Negeri 1 Demak pada materi kenaekaraman hayati dapat ditingkatkan.























BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN

A.    Setting Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di kelas X1 SMA Negeri 1 Demak kabupaten Demak, dengan kondisi kelas yang representatif mendukung pembelajaran, dengan guru mata pelajaran peneliti sendiri, selama 2 bulan mulai awal semester II yaitu bulan Februari 2013 sampai April 2013.
Penelitian dilaksanakan sebanyak 2 siklus.

B.     Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Siswa kelas X 1 SMA Negeri 1 Demak Kabupaten Demak yang berjumlah 38 siswa, terdiri dari 24 siswa perempuan dan 14 siswa laki-laki.
2.      Guru kelas X 1 sekaligus sebagai peneliti dan Guru Geografi Sebagai Guru Kelas X 1.

C.    Sumber Data
Data yang diambil dalam Penelitian Tindakan Kelas bersumber dari kejadian-kejadian atau kegiatan-kegiatan yang muncul pada proses pembelajaran, aktifitas guru dan katifitas siswa selama kegiatan belajar mengajar pada kondisi awal sebelum tindakan maupun setelah tindakan yaitu pada siklus I dan silkus II.

D.    Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Data yang akan diambil selama Penelitian Tindakan Kelas diperoleh dengan cara melakukan observasi, dokumentasi, dan tes.
1.      Observasi dilaksanakan dengan menggunakan instrumen keinerja afektif/sikap siswa selama siswa mengikuti proses pembelajaran.
2.      Tes dilaksanakan dengan menggunakan tes tertulis untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menguasai materi pelajaran biologi yang diberikan.

E.     Validasi Data
Validasi data bergantung dari validasi instrumennya. Validasi instrumen dalam penelitian ini menggunakan pratical validity yang artinya peneliti dan kolabor memutuskan innstrument yang akan digunakan. Sedangkan validasi data diperoleh dengan menggunakan face validity yang artinya peneliti dan kolabor melakukan cross-check data pada penelitian tindakan kelas.

F.     Analisa Data
Analisa dari data yang didapat menggunakan analisis deskriptif, yang disertai dengan analisis kualitatif untuk mendukung data di atas. Analisa ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1.      Analisis Hasil Pengamatan
Selama pembelajaran dilaksanakan oleh guru, maka dilakukan observasi oleh observer terhadap aktivitas guru dan siswa. Aktifitas siswa selama pembelajaran diamati dengan mengguakan alat pengumpul data. Begitu pun dengan aktifitas guru juga diobservasi oleh observer dengan menggunakan alat pengumpul data yang telah disediakan. Data-data ini dianalisis secara deskriptif dengan pendekatan berupa pendekatan kualitatif diperlukan karena untuk mendapatkan gambaran/informasi yang rinci dan mendalam.
2.      Analisis Tes Hasil Belajar
Data hasil tes berupa jawaban-jawaban siswa terhadap tipe soal isian dengan skor jawaban benar skor 1 dan jawaban salah skor 0.

G.    Indikator Kerja
Indikator kerja sejalan dengan tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah meningkatkan hasil belajra biologi yang ditandai dengan meningkatnya  kemampuan kognitif.
Untuk keperluan mengklasifikasi kualitas kemampuan siswa, baik kemampuan kognitif  maupun afektif dalam pembelajaran biologi dengan menggunakan tes dan lembar observasi, peneliti menentukan kriteria pencapaian prosentase perolehan skor secara kualitatif sendiri yaitu menurut interval berikut:
Amat Baik ≥ 85%; 75% ≤ Baik < 85%; 60% ≤ Cukup < 75%; Kurang <60 span="">
Khusus untuk keperluan klasifikasi kualitas kemampuan kognitif dari nilai ulangan, peneliti menantukan kriteria kenaikan sebagai berikut:
Amat Baik ≥ 20%; 10% ≤ Baik < 20%; 5% ≤ Cukup < 10%; Kurang <5 span="">

H.    Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan pusat penekatanan pada upaya penyempurnaan dan peningkatan kualitas pada proses serta praktek pembelajaran. Peneltian ini lebih memfokuskan pada penerapan  pembelajaran Biogeografi Terpadu berbasis Struktural Numbered Head Together sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X1  SMA Negeri 1 Demak Kabupaten Demak dalam kegiatan yang berbentuk Randoms Ciklus, sebanyak 2 siklus dengan mengacu pada model yang diadaptasi dari Hopkins (1993:48). Setiap siklus prosedur atau langkah-langkah yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini terdiri dari empat komponen kegiatan pokok yaitu : (a) perencanaan (planning); (b) tindakan (acting); (c) pengamatan (observing); (d) refleksi (reflecting), yang pada pelaksanaannya keempat komponen kegiatan pokok itu berlangsung secara terus menerus dengan diselipkan modifikasi pada komponen perencanaan berupa perbaikan perencanaan.
Keempat komponen kegiatan pokok ini dari sebuah siklus dalam penelitian tindakan kelas ini digambarkan sebagai sebuah spiral penelitian seperti ditunjukkan pada diagram berikut:

Gambar 1. Spiral Penelitian Tindakan kelas
1. Rencana
3. Refleksi
2. Tindakan/Pengamatan
                                                
                                                 4. Perbaikan


Refreksi
Tindakan/Pengamatan
                                                 4. Perbaikan


Refreksi
Tindakan/Pengamatan


Adapun proses penelitian dijelaskan sebagai berikut:
1.      Siklus I
a.       Perencanaan tindakan (Planning)
1)      Siklus pertama akan dilaksanakan dua kali pertemuan, dimana pertemuan pertama dengan materi keanekaragaman hayati disampaikan oleh guru biologi dengan observer guru geografi  dan untuk pertemuan ke dua materi keanakaragaman hayati disampaikan oleh guru geografi dengan observer guru biologi  dengan menggunakan metode pembelajaran  biogeografi terpadu dengan strategi lesson study berbasis Struktural Numbered Head Together.
2)      Menentukan kelas yang akan dijadikan tempat dilakukannya penelitian tindakan yaitu kelas X 1 SMA Negeri 1 Demak Kabupaen Demak pada semester ke dua tahun pelajaran 2012/2013.
3)      Menyusun Rencana Pembelajaran (lesson plan).
4)      Menyiapkan data kondisi awal yaitu nilai  ulangan harian sub bab sebelumnya dan hasil angket motivasi belajar siswa.
Khususnya pada penyusunan rencana pembelajaran, peneliti mendisain sedemikian rupa sehingga model pembelajaran kooperatif (cooperatif learning) tipe struktural numbered head together bisa dilaksanakan secara tepat. Selanjutnya langkah-langkah pembelajaran kooperatif dari awal hingga akhir dapat dilihat pada tabel berikut.



Tabel 1. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Fase Ke
Indikator
Aktifitas/Kegiatan Guru
1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan.
3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
4
Membimbing kelompok bekerja san belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.
5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telaj dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
6
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok.
Sumber : Adaptasi dari Mega Teguh B. Dkk. 2004
b.      Implementasi Tindakan (action)
1)     Melaksanakan proses pembelajaran sebanyak dua kali pertemuan, masing-masing pertemuan 2 jam pelajaran @ 45 menit.
2)     Pada pertemuan pertama dibahas mengenai keanekaragaman hayati dengan menggunakan model pembelajaran Biogeografi Terapdu dengan strategi lesson study berbasis Struktural Numbered Head Together dan pada saat pembelajaran, dilaksanakan observasi oleh guru biologi dan dan diamati oleh guru geografi sebagai observer sesuai dengan instrument pengumpul data yang telah ditetapkan.
3)     Pada pertemuan ke dua dibahas materi keanekaragaman hayati dengan menggunakan model pembelajaran Biogeografi berbasis Struktural Numbered Head Together, pada  saat pmebelajaran dilaksanakan observasi oleh guru geografi dan dan diamati oleh guru biologi sebagai observer sesuai dengan instrument pengumpul data yang telah ditetapkan.
c.       Pemantauan (Observing)
1)     Mengamati siswa selama pembelajaran berlangsung dengan instrument yang telah disediakan.
2)     Melihat hasil evaluasi untuk bahan refleksi.
d.      Refleksi (reflection)
Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan tindakan siklus 1 sebagai bahan  acuan perbaikan pada siklus berikutnya, maka diperlukan analisis masalah yang terjadi terutama yang berkaitan dengan penerapan model pembelajran, aktifitas belajar, tanggapan, dan rencana pembelajaran berikutnya. Pada tahap ini rumusan masalah yang digunakan sebgai pedoman keberhasilan, antara lain: Apakah proses belajar mengajar telah sesuai rencana? Perubahan apa yang terjadi pada siswa? Dan bagaimana tingkatan pencapaian hasil belajar?

2.      Siklus II
a.       Perencanaan (Planning)
1)     Proses pembelajaran akan dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan yang masing-masing 2 jam pelajaran @ 45 menit sesuai rencana pembelajaran.
1)     Pertemuan pertama akan membahas materi keanekaragaman hayati  dengan menggunakan metode pembelajaran Biogeografi terpadu dengan strategi lesson study  berbasis Struktural Numbered Head Together, dan pada saat pembelajaran, dilaksanakan observasi oleh guru biologi dan dan diamati oleh guru geografi sebagai observer sesuai dengan instrument pengumpul data yang telah ditetapkan.
2)     Pada pertemuan ke dua akan membahas materi geosfer dengan menggunakan metode pembelajaran Biogeografi Terpadu  berbasis Struktural Numbered Head Together, pada  saat pmebelajaran dilaksanakan observasi oleh guru geografi dan dan diamati oleh guru biologi sebagai observer sesuai dengan instrument pengumpul data yang telah ditetapkan.
2)     Akan dilaksanakan tes kemampuan siswa yang ke dua sebagai evaluasi siklus II
b.      Implementasi Tindakan (action)
1)     Melaksanakan proses pembelajaran sebanyak 2 kali pertemuan, masing-masing pertemuan 2 jam pelajaran @ 45 menit sesuai rencana pembelajaran.
2)     Pada pertemuan pertama dibahas mengenai Keanekaragaman Hayati dengan menggunakan model pembelajaran Biogeografi Terpadu  berbasis Struktural Numbered Head Together oleh guru Biologi dan diamati oleh guru geografi sebagai observer sesuai dengan instrument pengumpul data yang telah ditetapkan
3)     Pada pertemuan ke dua dibahas materi Keanekaragaman Hayati dengan menggunakan model pembelajaran Biogeografi Terpadu dengan strategi lesson study berbasis Struktural Numbered Head Together oleh Guru Geografi, diamataipleh guru biologi.
4)     Melaksanakan tes kemampuan siswa yang ke dua sebagai evaluasi siklus II.
c.       Pemantauan (Observing)
1)     Mengamati siswa selama pembelajaran berlangsung dengan instrument yang telah disediakan.
2)     Melihat hasil evaluasi untuk bahan refleksi.
d.      Refleksi (reflection)
Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan tindakan siklus 2 sebagai bahan  acuan perbaikan pada siklus berikutnya, maka diperlukan analisis masalah yang terjadi terutama yang berkaitan dengan penerapan model pembelajaran, aktifitas belajar, tanggapan, dan rencana pembelajaran berikutnya. Pada tahap ini rumusan masalah yang digunakan sebgai pedoman keberhasilan, antara lain: Apakah proses belajar mengajar telah sesuai rencana? Perubahan apa yang terjadi pada siswa? Dan bagaimana tingkatan pencapaian hasil belajar?




BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Penelitian
1.      Hasil Proses Selama Kegiatan Belajar Mengajar
a.      Siklus I
Pertemuan ke-1
Pada bagian ini, peneliti menyampaikan laporan siklus I. Sesuai dengan perencanaan, siklus pertama dilaksanakan dalam dua kali pertemuan.
Pada pertemuan pertama, materi yang dibahas adalah keanekaragaman hayati yaitu dengan berpedoman atau menggunakan Rencana Pembelajaran 1 (terlampir) yang sudah disiapkan, dengan menggunakan model pembelajaran Biogeografi Terpadu dengan strategi lesson study berbasis Struktural Numbered Head Together yang terdiri dari beberapa fase.
Pada fase pertama, sebelum guru menyampaikan tujuan belajar, memotivasi dan mempersiapkan siswa untuk belajar dengan cara menyampaikan kegunaan biologi khususnya  hubungan keanekaragam hayati dalam kehidupan sehari-hari maupun pada bidang yang lain, guru melihat kehadiran siswa dan ternyata semua masuk, tidak ada yang ijin, hal ini menunjukkan salah satu aspek sikap sudah memenuhi kriteria baik.
Pada fase kedua, dengan metode tanya jawab peneliti menyajikan informasi dengan bahan bacaan mengenai keanekeragaman hayati.
Pada fase ini ada 3 orang anak yang memberikan jawaban. Kemudian guru mengingatkan kembali mengenai keberagaman makhluk hidup sebagai materi prasarat untuk mempelajari kenaekaragaman hayati.
Pada fase ketiga, peneliti mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok yang sudah ditentukan dengan mempertimbangkan beberapa segi perbedaan, baik kemampuan maupun jenis kelamin. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya kelompok yang homogen dan untuk menjamin adanya scaffolding dalam pembelajaran. Scaffolding yang peneliti maksudkan  adalah  terjadinya proses tentang pengetahuan untuk menuntaskan suatu masalah yang melampaui tingkat kemampuannya. Pada saat pembentukan kelompok membutuhkan waktu agak lama, karena mereka belum terbiasa dengan pembelajaran model kelompok.
Pada fase yang keempat, peneliti membimbing siswa dalam kelompok belajar dan mengecek pemahaman siswa serta emmberikan umpan balik. Kegiatan belajar pada fas ini antara lain: (i) Siswa diberi tugas dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa, (ii) Masing-masing kelompok mendiskusikan, peneliti berkeliling sambil membimbing siswa yang membutuhkan bantuan sambil mengecek pemahaman siswa terhadap materi yang didiskusikan, (iii) Masing-masing kelompok mempresentasikan dan yang lain menanggapi. Pada fase keempat ini peneliti melaksanakan instrument pengukuran yang telah disediakan. Ternyata dengan model pembelajaran ini siswa lebih aktif dan tidak takut bertanya kepada teman sesama anggota kelompok atau kepada guru.
Pada fase kelima, peneliti memberikan latihan melalui LKS yang harus didiskusikan secara berkelompok untuk selanjutnya dipresentasikan  dan kelompok yang lain menanggapi. Pada saat presentasi masih banyak diwakili dan didominasi oleh siswa kelompok atas. Kemudian bersama-sama dengan siswa menyimpulkan  tentang materi yang telah didiskusikan dan memberikan tugas pekerjaan rumah.

Pertemuan ke-2
Pada pertemuan kedua di siklus yang pertama ini, sesuai dengan perencanaan Rencana Pembelajaran 1 (terlampir) yang sudah disiapkan, guru memulai pembelajaran materi Keanekragaman hayati dengan menggunakan model pembelajaran Biogeografi Terpadu dengan strategi Lesson Study berbasis Struktural Numbered Head Together yang terdiri dari beberapa fase.
Pada fase pertama, sebelum guru menyampaikan tujuan belajar, bersama-sama dengan siswa membahas pekerjaan rumah dan mengacek kehadiran siswa. Ternyata sama dengan pertemuan yang pertama kehadiran siswa 100%, hal ini menunjukkan salah satu aspek sikap sudah memenuhi kriteria baik.
Pada fase kedua, dengan melihat hasil pekerjaan rumah yang telah dikerjakan siswa dan dengan metode tanya jawab, guru memperjelas lagi mengenai materi jamur  karena materi tersebut sebagai materi prasarat untuk membahas materi selanjutnya yaitu keanekaragaman hayati
Pada fase ketiga, peneliti mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok yang sudah ditentukan dengan mempertimbangkan beberapa segi perbedaan, baik kemampuan maupun jenis kelamin. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya kelompok yang homogen dan untuk menjamin adanya scaffolding dalam pembelajaran. Scaffolding yang peneliti maksudkan  adalah  terjadinya proses tentang pengetahuan untuk menuntaskan suatu masalah yang melampaui tingkat kemampuannya. Pada pertemuan kedua ini pembentukan kelompok sudah agak cepat, karena mereka sudah berpengalaman di pertemuan yang pertama.
Pada fase yang keempat, peneliti membimbing siswa dalam kelompok belajar dan mengecek pemahaman siswa serta emmberikan umpan balik. Kegiatan belajar pada fas ini antara lain: (i) Siswa diberi tugas dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa, (ii) Masing-masing kelompok mendiskusikan, peneliti berkeliling sambil membimbing siswa yang membutuhkan bantuan sambil mengecek pemahaman siswa terhadap materi yang didiskusikan, (iii) Masing-masing kelompok mempresentasikan dan yang lain menanggapi. Pada fase keempat ini peneliti melaksanakan instrument pengukuran yang telah disediakan.
Ada 5 siswa yang mengajukan pertanyaan, tetapi pertanyaan tersebut peneliti lemparkan dulu kepada temannya yang lain baru terakhir memberikan penjelasan bersama.
Pada fase kelima, peneliti memberikan latihan melalui LKS yang harus didiskusikan secara berkelompok untuk selanjutnya dipresentasikan  dan kelompok yang lain menanggapi. Pada waktu presentasi sudah ada dari kelompok yang sedang berani tampil mewakili kelompoknya.
Kemudian bersama-sama dengan siswa menyimpulkan  tentang materi yang telah didiskusikan dan memberikan tugas pekerjaan rumah.
b.      Siklus II
Pertemuan ke-1
Pada bagian ini, peneliti menyampaikan laporan siklus II. Sesuai dengan perencanaan, siklus kedua dilaksanakan dalam dua kali pertemuan.
Pada pertemuan pertama, materi yang dibahas adalah Keanekaragaman Hayati yaitu dengan berpedoman atau menggunakan Rencana Pembelajaran 2 (terlampir) yang sudah disiapkan, dengan menggunakan model pembelajaran Biogeografi Terpadu dengan strategi lesson study  berbasis Struktural Numbered Head Together yang terdiri dari beberapa fase.
Pada fase pertama, sebelum guru menyampaikan tujuan belajar, memotivasi dan mempersiapkan siswa untuk belajar dengan cara mengingatkan kembali materi sebelumnya kemudian bersama-sama dengan siswa membahas pekerjaan rumah, guru mengecek kehadiran siswa, ternyata kehadirannya 100%, hal ini menunjukkan salah satu aspek sikap sudah memenuhi kriteria baik.
Pada fase kedua, dengan metode tanya jawab peneliti menyajikan informasi dengan bahan bacaan mengenai keanekaragam hayati.
Pada fase ketiga, peneliti mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok yang sudah ditentukan dengan mempertimbangkan beberapa segi perbedaan, baik kemampuan maupun jenis kelamin. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya kelompok yang homogen dan untuk menjamin adanya scaffolding dalam pembelajaran. Scaffolding yang peneliti maksudkan  adalah  terjadinya proses tentang pengetahuan untuk menuntaskan suatu masalah yang melampaui tingkat kemampuannya. Dalam fase ini, siswa sudah cepat dalam membuat kelompok, karena mereka sudah terbiasa dengan du apertemuan sebelumnya.
Pada fase yang keempat, peneliti membimbing siswa dalam kelompok belajar dan mengecek pemahaman siswa serta emmberikan umpan balik. Kegiatan belajar pada fas ini antara lain: (i) Siswa diberi tugas dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa, (ii) Masing-masing kelompok mendiskusikan, peneliti berkeliling sambil membimbing siswa yang membutuhkan bantuan sambil mengecek pemahaman siswa terhadap materi yang didiskusikan, (iii) Masing-masing kelompok mempresentasikan dan yang lain menanggapi. Pada fase keempat ini peneliti melaksanakan instrument pengukuran yang telah disediakan. Siswa yang dalam ketegori rendah sudah berani bertanya kepada teman anggota kelompoknya, sehingga diskusi menjadi semakin mantap.
Pada fase kelima, peneliti memberikan latihan melalui LKS yang harus didiskusikan secara berkelompok untuk selanjutnya dipresentasikan dan kelompok yang lain menanggapi. Beberapa siswa dari kelompok sedang sudah berani mempresentasikan hasil kelompoknya. Kemudian bersama-sama dengan siswa menyimpulkan tentang materi yang telah didiskusikan dan memberikan tugas pekerjaan rumah.
Pertemuan ke-2
Pada pertemuan kedua di siklus yang pertama ini, sesuai dengan perencanaan Rencana Pembelajaran 2 (terlampir) yang sudah disiapkan, guru memulai pembelajaran materi keanekaragaman hayati dengan menggunakan pembelajaran Biogeografi Terpadu dengan strategi lesson study  berbasis Struktural Numbered Head Together yang terdiri dari beberapa fase.
Pada fase pertama, sebelum guru menyampaikan tujuan belajar, bersama-sama dengan siswa membehas pekerjaan rumah dan mengacek kehadiran siswa. Ternyata semua masuk tidak ada yang ijin, hal ini menunjukkan salah satu aspek sikap sudah memenuhi kriteria baik.
Pada fase kedua, dengan melihat hasil pekerjaan rumah yang telah dikerjakan siswa dan dengan metode tanya jawab, guru memperjelas lagi mengenai materi keanekaragaman hayati karena materi tersebut sebagai materi prasarat untuk membahas materi selanjutnya yaitu keanekaragaman haayati di Indonesia.
Pada fase ketiga, peneliti mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok yang sudah ditentukan dengan mempertimbangkan beberapa segi perbedaan, baik kemampuan maupun jenis kelamin. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya kelompok yang homogen dan untuk menjamin adanya scaffolding dalam pembelajaran. Scaffolding yang peneliti maksudkan  adalah terjadinya proses tentang pengetahuan untuk menuntaskan suatu masalah yang melampaui tingkat kemampuannya.
Pada fase yang keempat, peneliti membimbing siswa dalam kelompok belajar dan mengecek pemahaman siswa serta emmberikan umpan balik. Kegiatan belajar pada fas ini antara lain: (i) Siswa diberi tugas dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa, (ii) Masing-masing kelompok mendiskusikan, peneliti berkeliling sambil membimbing siswa yang membutuhkan bantuan sambil mengecek pemahaman siswa terhadap materi yang didiskusikan, (iii) Masing-masing kelompok mempresentasikan dan yang lain menanggapi. Pada fase keempat ini peneliti melaksanakan instrument pengukuran yang telah disediakan.
Pada fase kelima, peneliti memberikan latihan melalui LKS yang harus didiskusikan secara berkelompok untuk selanjutnya dipresentasikan dan kelompok yang lain menanggapi. Pada presntasi kali ini ada 8 siswa yang mengajukan pertanyaan dan siswa terlebih dahulu diberi kesempatan untuk menjawab, baru guru mengarahkan kemudian menyimpulkan bersama dengan siswa.









2.      Hasil Belajar
a.      Hasil Pengukuran Nilai Kognitif / Nilai Ulangan Harian Siswa
Data yang diperoleh dari pelaksanaan pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut ini.
Tabel 2. Perkembangan nilai rata-rata UH siswa kelas X 1 Semester II Tahun Pelajaran 2012/2013
Pra Siklus
Siklus I
Siklus II
74.42

80.89

86.13

Grafik 1. Perkembangan nilai rata-rata UH siswa kelas X 1
Semester II Tahun Pelajaran 2012/2013

Dengan memperhatikan tabel atau grafik diatas, dapat diketahui bahwa model pembelajaran Biogeografi Terpadu dengan lesson study Berbasis Struktural Numbered Head Together dapat meningkatkan nilai rata-rata ulangan harian siswa sebesar 15,33% dari rata-rata UH Pra Siklus. Peningkatan nilai rata-rata UH telah memenuhi indikator keinerja dan termasuk dalam kriteria baik.

b.      Hasil Pengukuran Nilai Afektif Siswa
Data yang diperoleh dari afektif bentuk rating scale dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut ini.
Tabel 3. Perkembangan kemampuan Afektif siswa kelas X 1 Semester II Tahun Pelajaran 2012/2013
Pra Siklus
Siklus I
Siklus II
67,17
75,44
80,95

Grafik 2. Perkembangan kemampuan Afektif siswa kelas X 1 Semester II Tahun Pelajaran 2012/2013


Dengan memperhatikan grafik diatas dapat diketahui bahwa penerapan  pembelajaran Biogeografi Terpadu Berbasis Struktural Numbered Head Together dapat meningkatkan kemampuan afektif siswa ketika belajar biologi materi keanekaragaman hayati. Sampai pada akhir siklus II, prosentase perolehan skor pada keseluruhan aspek yang dinilai telah mencapai 80,95%. Angka pencapaian afektif ini telah memenuhi indicator kinerja dan termasuk dalam kriteria baik.


c.       Hasil Pengukuran Nilai Kognitif dan Nilai Afektif
Tabel 4. Hasil Pengukuran Nilai Kognitif, Nilai Afektif
Pada Pra Siklus, Siklus I, Siklus II

P. Kognitif
P. Afektif
Pra Siklus
74.42
67.17
Siklus I
80.89
75.44
Siklus II
86.13
80.95
Grafik 3. Hasil Pengukuran N. Kognitif, N. Afektif Pra Siklus,
Siklus I dan Siklus II
B.     Pembahasan
Dengan memperhatikan hasil pengukuran selama dua siklus pembahasan maka dapat dijelaskan bahwa:
1.      Penerapan model pembelajaran Biogeografi Terpadu dengan strategi lesson study  Berbasis Struktural Numbered Head Together sangat efektif untuk meningkatkan hasil belajar biologi siswa materi keanekaragaman hayati, ini sesuai dengan teori dalam Zaenal Aqib (2007:61) bahwa ada empat faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar yaitu guru, siswa, kurikulum dan faktor lingkungan. Faktor guru adalah ketrampilan mengajar, mengelola tahapan pembelajaran dan pemilihan metode mengajar supaya tujuan pembelajaran tercapai. Tujuan belajar adalah hasil belajar siswa, yang menurut Blomm, dkk merupakan perubahan perilaku yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
2.      Aktifitas belajar siswa perlu dikembangkan dan ditingkatkan dengan model pembelajaran salah satunya dengan model pembelajran Biogeografi Terpadu dengan startegi lesson study  Berbasis Struktural Numbered Head Together yang sudah terbukti dapat meningkatkan keaktifan siswa, dimana potensi siswa bisa berkembang sehingga hasil belajarnya juga akan meningkat secara optimal. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan Harjanto, bahwa untuk meningkatkan aktifitas siswa dalam belajar supaya tujuan belajr yaitu hasil belajr juga meingkat maka kita harus memperhatikan prinsip-prinsip belajar yaitu prinsip ke lima, adalah partisipasi aktif dari siswa. Keaktifan sepenuhnya ada pada diri siswa, guru hanya menyediakan bahan dan cara belajar yang sebaik-baiknya.


BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Penerapan model pembelajaran Biogeografi Terpadu dengan strategi lesson study  Berbasis Struktural Numbered Head Together dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X 1 SMA N 1 Demak Kabupaten Demak Semester II tahun pelajaran 2012/2013 pada mata pelajaran biologi, materi keanekaragaman hayati.
Hal ini ditunjukkan oleh:
1.      Kenaikan nilai rata-rata UH siswa sebesar 6,51 atau sebesar 15,33% dari nilai rata-rata UH Pra Siklus. Peningkatan nilai rata-rata UH telah memenuhi indikator kinerja dan termasuk dalam kriteria baik.
2.      Perolehan prosentase skor keseluruhan aspek yang dinilai pada pengukuran kinerja/kemampuan afektif yang sampai siklus II mencapai 80,95%. Dan terjadi peningkatan sebesar 13,78% dari Pra Siklus. Angka perolehan kinerja/kemampuan afektif telah memenuhi indikator kinerja dan termasuk dalam kriteria baik.
B.     Implikasi
1.      Implikasi Teoritis
Implikasi Teoritis dari hasil penelitian ini adalah:
a.       Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan khasanah pengetahuan bagi para pembaca pada umumnya dan sekaligus sebagai dasar pengembangan penelitian bagi guru biologi pada khususnya dalam rangka peningkatan dan perbaikan kualitas pengajaran.
b.      Hasil Penelitian ini dapat digunakan untuk meningkatkan peran serta bersama guru, orang tua dan siswa dalam penyelenggaraan pendidikan agar dapat membantu siswa dalam mengkatkan kemampuan secara menyeluruh.
2.      Implikasi Praktis
Implikasi Praktis dari hasil penelitian ini adalah:
a.       Bagi guru, dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa.
b.      Bagi siswa, dapat meningkatkan aktifitas dalam pembelajaran sehingga hasil belajarnya juga dapat meningkat.


C.    Saran
Kepada teman-teman guru, sejalan dengan pengalaman pembelajaran yang saya lakukan, maka saya sarankan:
a.       Buatlah kesan bahwa biologi bukan merupakan pelajaran yang sulit dan kurang menyenangkan supaya siswa lebih termotivasi. Dengan cara antara lain memilih metode pembelajaran kolaboratif, karena dengan metode pembelajarn kolaboratif siswa merasa mendapartkan pengalaman belajar dari 2 sumber materi yang cukup menunjang sehingga menjadikan rasa senang, mampu mewujudkan sikap saling membantu, saling pengertian dan saling menghargai. Dari situlah siswa akan merasa berarti dan punya potensi untuk mempu menguasai dan mengembangkan biologi semakin tinggi.
b.      Bimbinglah siswa dengan langkah-langkah yang sistematis dalam belajar biologi, karena bagi siswa yang rendah kemampuannya sangat memerlukan proses membangun pengetahuan secara bertahap dan janganlah mereka dibiarkan frustasi dalam membangun pengetahuan tersebut supaya mereka tetap termotivasi, sehingga hasil belajarnya diharapkan juga meningkat.
c.       Berusalah menjadi guru seoptimal mungkin untuk dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan dunia nyata siswa, bahwa apa yang mereka pelajari tidak sekedar untuk mendapat pengetahuan malainkan juga bisa bermanfaat dan bermakna bagi kehidupannya.




DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Arikunto ,Suharsimi,2006,Prosedur Penelitian ,Jakarta :Rineka Cipta
Aqib, Zaenal ,2007,2007,Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru,Bandung : Yrama Yudha
Aqib, Zaenal (2013). Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif). Bandung: Yrama Widya.
Beauchemin, J. 2007. (http://www.sel.com.), diakses 20 Juli 2007.
Depdiknas, 2003. Pendekatan Kontekstual (Contekstual Theacing and Learning: Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.
Hamzah ,2007,Profesi Kependidikan ,Jakarta : Bumi Aksara
Hamalik,Oemar.2005. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta : Bumi Aksara.
Lie, Anita. 2004. Cooperative Learning (Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas). Jakarta : Grasindo.
Depdiknas, 2003. Pendekatan Kontekstual (Contekstual Theacing and Learning: Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.
Koswara, Dudung. 2011. Merefleksi Ujian Nasional. http://dudungsejarah.blogspot.com/2011/04/merefleksi-ujian-nasional.html. Diunduh tanggal 23 Juli 2011.
Marsigit. 2007. Mathematics Teachers’ Professional Development through Lesson study in Indonesia. Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education. 3 (2): 141-144.
Robinson, Naomi. 2006. Lesson study: An example of its adaptation to Israeli middle school teachers . (Online): stwww.weizmann.ac.il/G-math/ICMI/
Sudrajat, A. 2008. Lesson study untuk meningkatkan proses dan hasil pembelanjaran.Semarang.http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/22/lesson-study-untuk-meningkatkan-proses-dan-hasil-pembelajaran/. Diunduh 10 Oktober 2010.
Aqib, Zaenal (2013). Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif). Bandung: Yrama Widya.

______, 2008. PR Biologi untuk SMA/MA. Klaten. Intan Pariwara.