Senin, 14 Oktober 2013




logo iso newPEMERINTAH KABUPATEN DEMAK
logo demakDINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
SMA NEGERI 1 DEMAK
Jl. Sultan Fatah 85 Telp. (0291) 685241  Fax. (0291)685241
Website : www.sman1demak.sch.id E-mail : info@sman1demak.sch.id
 


SURAT KEPUTUSAN KEPALA SMA N 1 DEMAK

NOMOR : 422.1/250/2013

TENTANG

STANDAR PELAYANAN SEKOLAH TERPADU
UNIT PELAYANAN KESISWAAN

KEPALA SMA NEGERI 1 DEMAK

Menimbang
:
a.
bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 36 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Publik dan dalam rangka peningkatan kualitas  pelayanan sekolah  di lingkungan SMA N 1 Demak, maka perlu disusun Standar Pelayanan Sekolah Terpadu;


b.
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a perlu menetapkan Surat Keputusan (SK) tentang Standar Pelayanan Sekolah Unit Pelayanan Kesiswaan di SMA N 1 Demak;
Mengingat
:
1.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2009 tentang Sistem Pendidikan Nasional;



2
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038);


3.
Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik;


4.
Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor KEP/25/M.PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah;


5.
Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor KEP/26/M.PAN/2/2004 tentang Petunjuk Teknis Transparansi dan Akuntabilitas Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik;


6.


7.
Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/20/M.PAN/04/2006 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Publik;
SK Dirjen Diklusepora No : KEP-94/E/OT/1999 Tanggal 14 September 1999 Tentang Pedoman Penyusunan dan Penyelenggaraan Kegiatan Operasional Sanggar Kegiatan Belajar;


8.
Peraturan Bupati Demak Nomor 8 Tahun 2013  tentang Standar Pelayanan Kabupaten Demak;







MEMUTUSKAN :



Menetapkan
:
SURAT KEPUTUSAN KEPALA SMA N 1 DEMAK TENTANG STANDAR PELAYANAN SEKOLAH TERPADU UNIT PELAYANAN KESISWAAN



Pasal 1

Dalam SK Kepala SMA N 1 Demak  ini yang dimaksud dengan :
1.               Standar Pelayanan Sekolah Terpadu Unit Pelayanan Kesiswaan adalah ukuran yang dibakukan dalam penyelenggaraan pelayanan.
2.               Pelayanan Sekolah Terpadu Unit Pelayanan Kesiswaan adalah segala kegiatan yang diberikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan.
3.               Prosedur Pelayanan Sekolah Terpadu Unit Pelayanan Kesiswaan dalah kemudahan tahapan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dilihat dari sisi kesederhanaan alur pelayanan.
4.               Persyaratan Pelayanan Sekolah Terpadu Unit Pelayanan Kesiswaan adalah persyaratan teknis dan administrasi yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan sesuai dengan jenis pelayanannya.

Pasal 2

(1)             Maksud Standar Pelayanan Pelayanan Sekolah Terpadu Unit Pelayanan Kesiswaan adalah untuk memberikan kepastian hukum dalam hubungan antara masyarakat dengan penyelenggara pelayanan publik.
(2)             Tujuan Standar Pelayanan Pelayanan Sekolah Terpadu Unit Pelayanan Kesiswaan dalah :
a.       Terwujudnya batasan dan hubungan yang jelas tentang hak, tanggung jawab, kewajiban, dan kewarganegaraan seluruh pihak yang terkait dengan pelayanan Pelayanan Sekolah Terpadu Unit Pelayanan Kesiswaan; dan
b.       Terwujudnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan Pelayanan Sekolah Terpadu Unit Pelayanan Kesiswaan.


Pasal 3

Standar Pelayanan Sekolah Terpadu Unit Pelayanan Kesiswaan di SMA N 1 Demak sebagaimana tercantum dalam lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Keputusan ini.

Pasal 4

Standar Pelayanan Sekolah Terpadu Unit Pelayanan Kesiswaan di SMA N 1 Demak sebagaimana tercantum dalam lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Keputusan ini.

Pasal 5

Mekanisme Pengaduan Standar Pelayanan Sekolah Terpadu Unit Pelayanan Kesiswaan di SMA N 1 Demak sebagaimana tercantum dalam lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Keputusan ini.

Pasal 6

Surat Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, Standar Pelayanan Sekolah Terpadu Unit Pelayanan Kesiswaan di SMA N 1 Demak mengadakan sosialisasi kepada masyarakat pengguna layanan  internal dan eksternal.



                                                                     Ditetapkan di Demak
Pada Tanggal :  2 Januari 2013       
                                                                  ----------------------------------------------------
KEPALA SMA N  1 Demak,




Drs. SUYANTO, M.Pd
                                                                                                                   Pembina
                                                                                                     NIP. 19680313 199512 1 003












    







Rabu, 30 September 2009

Bahan Ajar Kelas X

VIRUS

Virus berasal dari kata virion yang berarti racun. Virus dapat menyebabkan penyakit pada tumbuhan, hewan dan manusia. Virus mempunyai sifat antara benda mati dan makhluk hidup.
A. Sejarah Penemuan Virus
Perjalanan panjang penemuan virus diawali dengan penemuan mikroskop oleh Antony van Leeuwenhoek hingga ditemukannya penyakit mozaik pada daun tanaman tembakau.
Tokoh-tokoh penemuan virus antara lain Adolf Mayer (1883) menemukan penyakit mozaik pada tanaman tembakau dan dapat menular, Dimitri Ivanowsky (1892) menemukan penyebab penyakit mozaik pada tembakau bukan bakteri, Martinus beijerinck (1897) menemukan penyebab penyakit mozaik pada tembakau hanya dapat menyerang tanaman tembakau yang masih hidup, dan Wendell Stanley (1935) dapat mengkristalkan penyebab penyakit tersebut dan memberi nama TMV (Tobacco mosaic virus).
B. Ciri-ciri Virus
Jika dibandingkan dengan makhluk hidup lain virus memiliki cirri-ciri tersendiri. Ciri-ciri virus antara lain: parasit obligat, tidak dapat disentrifugasi biasa, dapat dikristalkan, tidak melakukan metabolisme sendiri, tidak bergerak, tidak dapat membelah diri, berkembang biak pada sel yang hidup, dan hanya memerlukan asam nukleat untuk berkembang biak.
C. Struktur Virus
Secara umum struktur tubuh virus tidak mempunyai sel (aseluler) berukuran 20 – 300 milimikron, hanya memiliki DNA/RNA saja, bentuk bervariasi (oval, silinder, polyhedral, T dan kompleks), dan tubuh berupa hablur (kristal) yang tersusun atas kepala dan ekor.
Bagian tubuh virus terdiri atas :
1. Kepala
Pada bagian kepala terdiri atas asam nukleat yang terlindung dalam selubung protein atau kapsid. Asam nukleat virus berupa materi genetik (DNA/RNA) yang digunakan untuk replikasi virus.
Tiap kapsid pada virion terdiri atas kapsomer yang berupa rantai polipeptida. Virion adalah virus yang terdiri atas asam nukleat dan selubung protein.
2. Ekor, merupakan bagian virus yang digunakan untuk menetrasi enzim lisozim ke tubuh sel inang



kapsomer
kapsid{p
DNA/RNA
ekor

serabut ekor

Gambar bakteriofage
Bakteriofage adalah satu jenis virus yang menyebabkan sel bakteri lisis (pecah). Bakteriofage dikembangkan untuk kepentingan rekayasa genetika.
D. Replikasi Virus
Replikasi merupakan proses perkembangbakan pada virus. Replikasi pada virus terdiri dari 2 cara yaitu secara litik dan secara lisogenik.
1. Secara litik
Infeksi virus secra litik meliputi fase absorbsi, penetrasi, replikasi dan sintesis, perakitan, dan pembebasan.
2. Secara lisogenik
Infeksi virus secara lisogenik meliputi fase adsorbsi dan infeksi, penetrasi, penggabungan, dan replikasi.
E. Peran Virus dalam kehidupan
Bagi manusia, virus memberikan kontribusi menguntungkan sekaligus merugikan.
1. Menguntungkan
Melalui penerapan bioteknologi, virus dapat dimanfaatkan untuk pembuatan vaksin untuk mencegah penyakit dan pembuatan gen interferon untuk menhancurkan dan menghambat reproduksi virus.
2. Merugikan
Secara umum virus dapat menginfeksi makhluk hidup dan menimbulkan penyakit. Beberapa penyakit pada tumbuhan yang disebabkan oleh virus antara lain bercak kuning pada daun (mozaik) dan penyakit daun menggulung pada tanaman tembakau, kapas dan lobak.
Pada manusia virus dapat menimbulkan penyakit influenza, flu burung, campak, cacar air dan herpes, hepatitis, polio, gondong, AIDS, ebola, herpes simplek, r.abies dan SARS
Latihan Soal
A. Pilihlah jawaban yang paling tepat !
1. Virus berasal dari kata virion yang berarti ….
a. zat c. racun e. benda berbahaya
b. molekul d. penyakit
2. Ahli biologi yang memberi nama Tobacco mosaic virus pada penyakit bercak kuning daun tembakau adalah ….
a. Antony van Leeuwenhoek c. Ivanovski e. Adolf Mayer
b. Beijerinck d. Wendell Sanley
3. Medium yang cocok untuk menumbuhkan virus adalah ….
a. air kaldu c. telur unggas yang sudah busuk
b. embrio burung yang hidup e. bangkai ayam
c. medium agar dari ekstrak kentang
4. Alasan virus merupakan kehidupan yang paling awal di dunia adalah ….
a. virus bereproduksi di dalm sel inang
b. struktur virus menyerupai organisme lain
c. fosil virus ditemukan terlebih dahulu
d. ukuran tubuh virus hampir menyamai bakteri
e. senyawa kimia dalam tubuh virus sangat terbatas
5. Bagian virus yang digunakan untuk replikasi adalah ….
a. asam nukleat c. liprotein e. polipeptida
b. kapsomer d. nukleokapsid
6. Virus yang menyerang bakteri adalah ….
a. Rhabdovirus c. retrovirus e. Paramyxovirus
b. Orthomyxovirus d. bakteriofage
7. Kemampuan berkembang biak virus T dalam sel inang ditentukan oleh ….
a. ukuran tubuhnya c. kondisi lingkungan e. persediaan nutrisi
b. protein virus d. DNA
8. Selama DNA virus menempel pada DNA bakteri, bakteri tetap mampu mangadakan replikasi. Cara ini disebut ….
a. lisis c. adsorbsi e. eklifase
b. lisogenik d. penetrasi
9. Perhatikan daftar penyakit dibawah ini !
1) demam berdarah 3) rabies 5) polio
2) tuberkolusis 4) cacar
Penyakit yang disebabkan oleh virus adalah ….
b. 1,2,3 c. 1,2,4 e. 3,4,5
c. 1,3,5 d. 2,3,4
10. Penyakit yang menyerang jaringan pengangkut pada batang tanaman jeruk adalah ….
a. parrot fever c. yellow fever e. herpes simpleks
b. mycloma d. foot and mouth desease
B. Jawablah pertanyaan dibawah ini !
1. Mengapa virus tidak dapat dipertimbangkan sebagai makhluk hidup ?
2. Jelaskan dengan gambar struktur tubuh bakteriofage !
3. Jelaskan tahap-tahap siklus lisis bakteriofage !
4. Bagaimana cara penularan dan pencegahan virus flu burung !
5. Sebutkan 2 macam peran virus yang menguntungkan bagi manusia !

Minggu, 27 September 2009

Bahan Ajar Biologi Kelas X

ARCHAEBACTERIA DAN EUBACTERIA


Archaebacteria dan Eubacteria merupakan golongan organisme prokariota yang tidak mempunyai membrane inti sel. Golongan Cyanobacteria disejajarkan dengan eubacteria karena kemampuannya dalam berfotosintesis
A. Archaebacteria
Archaebacteria merupakan organisme yang memanfaatkan senyawa anorganik untuk menghasilkan energi. Archaebacteria dapat ditemukan pada lingkungan yang ekstrim, yaitu daerah sumber air panas, berkadar garam tinggi, berkadar asam tinggi dan daerah miskin oksigen.
Karakteristik archaebacteria dapat dilihat dari komposisi kimia dinding selnya, komposisi RNA dan lemak penyusun membrane selnya. Reproduksi archaebacteria dengan cara pembelahan biner, pembentukan tunas dan fragmentasi.
Anggota archaebacteria terbagi menjasi 3 kelompok berdasar metabolisme dan ekoliginya. Kelompok archaebacteria terdiri atas :
1. Metanogen
Kelompok ini mampu mengubah CO2 dan H2 menjadi gas metana (CH4). Metanogen bersifat anaerobic dan kemosintetik. Metanogen dapat ditemikan pada rawa-rawa, tempat berlumpur dan rumen ruminansia. Contohnya Methanobacteriun dan Ruminococcus albus.
2. Halofilik
Kelompok ini mampu hidup pada daerah berkadar garam tinggi, sebagian mampu berforosintesis karena memiliki klorofil bakteriorodopsin. Contohnya Halobacteruim dan Halococcus.
3. Termoasidofilik
Termoasidofilik hidup ditempat bersuhu tinggi dan bersifat asam, biasanya mereka mengoksidasi sulfur. Contohnya Sulfolobus, Thermoplasma dan Thermoproteus.
B. Eubacteria
Eubacteria merupakan golongan bakteri secara umum. Anggota ebacteria adalah mikroorganisme prokariota, umumnya tidak berklorofil, habitat disemua tempat, mampu membentuk endospora dan berkembang biak dengan pembelahan biner.
Struktur tubuh bakteri tersusun atas dindingsel yang berflagel dan atau berlendir. Dinding sel terdiri atas mukopolisakarida dan pertidoglikan, endoplasma, membran plasma DNA, ribosom dan plasmid.
Eubacteria dapat berbentuk bulat, batang atau spiral dengan berbagai variasinya. Berdasarkan karakteristik dinding selnya, bakteri dibedakan atas bakteri gram negatif, gram positif dan tidak berdinding sel. Berdasarkan jumlah dan letak flagel, bakteri dibedakan
menjadi monotrik, amfitrik, lopotrik dan peritrik. Berdasarkan cara hidupnya, bakteri dibedakan menjadi bakteri heterotrof (parasit, saprofit, pathogen dan apatogen) dan bakteri autotrof (fotoautotrof dan kemoautotrof).





Gambar struktur sel bakteri
Peranan bakteri bagi manusia dapat merugikan dan menguntungakan. Bagi manusia bakteri dapat dimanfaatkan untuk :
1. Fiksaasi nitrogen sehingga menyuburkan tanah, contohnya Nitrosomonas, Notrosococcus dan Nitrobacter
2. Mengolah bahan makanan, contohnya Lactobacillus casei, Sterptococcus lactis, Sterptococcus cremoris, Lactobacillus citrovorum dan Acetobacter xylinum.
3. Memproduksi antibiotik, contohnya Bacillus brevis, Bacillus subtilis, dan Bacillis polymyxa.
Bakteri merugikan dapat menimbulkan penyakit. Penyebaran bakteri dapat terjadi melalui makanan, minuman dan udara pernapasan. Tindakan pencegahan terhadap penyakit bakteri dapat dilakukan melaui pengawetan makanan dengan asam, pengasapan, penggaraman, pengeringan, pemanisan, pasteurisasi dan strerilisasi.
C. Cyanobacteria
Cyanobacteria merupakan organisme prokariotik yang bersifat mikroskopis, dinding sel diselubungi lendir, dapat bergerak, tidak berflagel, habitat ditempat basah, tanah, batu dan bersimbiosis dengan organisme lain, memiliki pigmen diminan fikosianin sehingga berwarna hijau kebiru-biruan. Berkembang biak dengan pembelahan sel, fragmentasi dengan membentuk hormogonium dan mampu membentuk spora bila keadaan tidak menguntungkan.
Bentuk cyanobacteria umumnya unuseliler (Choococcus, Anacystis), koloni (Nostoc, Mycrocystis), dan filament (Oscilatoria, Anabaena, Mycrococcus). Peranan cyanobacteria antara lain untuk sumber makanan alternatif, menambat nitrogen, vegetasi perintis, produsen di perairan, dan menyebabkan blooming di perairan.
Latihan Soal
A. Pilihlah jawaban yang paling tepat !
1. Kelompok Archaebacteria yang hidup di laut adalah ….
a. metanogenik c. halofilik e. termoasidofilik
b. asidofilik d. alkali
2. Perbedaan utama antara archaebacteria dan eubacteeria adalah ….
a. membentuk metanogen d. membrane inti sel
b. tidak dapat berfotosintesis e. reproduksi sel bakteri
c. kandungan peptidoglikan pada dinding sel
3. Untuk melindungi diri dari lingkungan yang ekstrim, bakteri memiliki struktur yang disebut ….
a. spora c. kapsul e. peptidoglikan
b. kapsid d. endospora
4. Bakteri berkembang biak dengan cara ….
a. membelah diri c. konjugasi e. lisis
b. membentuk tunas d. fragmentasi
5. Bakteri yang memiliki lapisan peptidoglikan yang tebal pada dinding selnya adalah ….
a. bakteri anaerob c. bakteri heterotrof e. bakteri aerob
b. bakteri gram negatif d. bakteri gram positif
6. Bakteri yang menghasilkan antibiotic adalah ….
a. Bacillus anthracis c. lactobacillus casei e. Thiobacillus
b. Bacillus brevis d. Streptomyces griceus
7. Persamaan antara Eubacteria dan Cyanobacteria adalah ….
a. membentuk hifa c. mengandung fikosianin e. bersifat autotrof
b. inti tidak berdinding d. hidup berkoloni
8. Pigmen dominant pada Cyanobacteria adalah ….
a. fikosantin c. klorofil e. fikoeritrin
b. fikobilin d. fikosianin
9. Sel spora Cyanobacteria yang berperan dalam reproduksi adalah ….
a. akinet c. heterokista e. hormogonium
b. zoospora d. mikrospora
10. Paku air di sawah bersimbiosis dengan ….
a. Oscillatoria c. spirulina e. Mycrocystis
b. Anabaena d. Nostoc
B. Jawablah pertanyaan dibawah ini !
1. Sebutkan 3 anggota kelompok Archaebacteria !
2. Jelaskan cara bakteri memperoleh makanan !
3. Sebutkan 3 bakteri yang berperan dalam bidang industri makanan !
4. Jelaskan cara cyanobacteria berkembang biak !
5. Sebutkan 5 peranan cyanobacteria bagi manusia dan beri contoh mikroorganismenya !
Pengantar
Assalamu'alaikum warochmatullahi wabarokatuh!
Selamat datang di Blog-nya Pak Setyo Nugroho. Blog ini dibuat khusus untuk kepentingan pembelajaran pada mata pelajaran Biologi bagi siswa - siswa ku di SMA 1 Demakkhususnya, juga untuk menuangkan ide yang kemungkinan bermanfaat untuk orang lain. Blog ini juga kami lengkapi dengan link sumber belajar, bahan pelajaran atau soal latihan, serta tugas siswa khususnya untuk komunitas biologi SMA. Anda dapat mengguanakan blog ini sebagai wahana belajar, komunikasi dan usul serta saran yang mungkin sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan.
Terima kasih atas kunjungan anda ke blog ini, berikan saran mengenai isi, wacana, atau semacamnya. Kami bangga pada Anda yang memberikan komentar atau saran yang bersifat konstruktif. "Segala sesuatu akan sangat bermanfaat apabila diberdayakan sebagaimana mestinya". Selamat datang, Semoga Kunjungan Anda menyenangkan.
Wassalamu'alaikum Warochmatullahi Wabarokatuh!

Informasi alamat e-mail tugas siswa
Siswa-siswa tercinta, khusus untuk pengumpulan tugas biologi selama tahun pelajaran 2009/2010 anda dapat mengirimkan melalui alamat berikut ini, sesuai dengan tingkatan kelas kamu.
1. rsbisepuluhsmasatu@gmail.com untuk tugas biologi bagi siswa kelas 10,
2. ipasebelastiga untuk tugas biologi bagi siswa kelas XI A3
3. ipasebelasempat untuk tugas biologi bagi siswa kelas XI A4
4. ipasebelaslima untuk tugas biologi bagi siswa kelas XI A5
. Demikian informasi ini kami sampaikan untuk dimaklumi.

Minggu, 15 Maret 2009

KONSEP COMUNNITY-LEAD TOTAL SANITATION (CLTS) BAGI KEBIASAAN BUANG AIR BESAR (BAB) DI SEPANJANG SUNGAI KALI SERANG OLEH MASYARAKAT KAMPUNG BONG (


KONSEP COMUNNITY-LEAD TOTAL SANITATION (CLTS)
BAGI KEBIASAAN BUANG AIR BESAR (BAB) DI SEPANJANG SUNGAI KALI SERANG OLEH MASYARAKAT KAMPUNG BONG (Jl. SEMBOJA )
RT 8 RW 6 KELURAHAN BINTORO KECAMATAN DEMAK
KABUPATEN DEMAK
Disusun untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Guru SMA Se-Kabupaten Demak yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan KabupatenDemak Tahun 2008
oleh :
Nama : SETYO NUGROHO, S.Pd
NIP.500159716
Unit : SMA Negeri 1 Demak
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN DEMAK
SMA NEGERI 1 DEMAK
TAHUN 2008

BAB I

PENDAHULUAN
A Latar Belakang
Usaha Pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat telah banyak dilakukan, beberapa hal usaha yang digalakkan adalah ditingkatkannya sektor industri, pertanian dan pemukiman. Dengan demikian diharapkan taraf hidup masyarakat akan dapat ditingkatkan lagi.
Peningkatan pembangunan disektor pertanian, industri, dan pemukiman ternyata selain berdampak positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat ternyata dapat menimbulkan dampak negatif yang lain, diantaranya menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan. Salah satu wujud penurunan kualitas perairan sungai. Menurunnya kualitas air sungai disebabkan oleh kegiatan-kegiatan di sektor industri, pertanian dan rumah tangga. Hal ini dikarenakan oleh rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap kelesarian lingkungan. Menurut Lase (1991:52) bahwa pengelolaan lingkungan oleh masyarakat Jawa Tengah belum membudaya. Mereka menganggap bahwa masalah ini menjadi tanggung jawab pemerintah. Masalah pencemaran dan munculnya reaksi terhadap dampak negatifnya baru terangkat ke permukaaan apabila sudah mencapai korban.
Di wilayah perdesaan atau perkotaan yang kurang tertata masalah jamban atau WC masih merupakan permasalahan yang pelik dan belum seluruhnya dapat diatasi. Tingginya angka pertumbuhan penduduk dan rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan semakin rumitnya permasalahan penyediaan jamban.Di samping itu, ada faktor yang menyebabkan masyarakat tidak atau belum mempunyai jamban/ wc, di antaranya:
1. Ketidaktahuan masyarakat akan proses pembangunan yang terjadi,karena ada anggapan bahwa semua urusan sanitasi merupakan urusan pemerintah.
2. Masalah budaya, bagi masyarakat yang kebetulan tinggal di pinggiran sungai, saluran irigasi dan kebun, membuang hajat cukup di sungai, saluran dan kebun. Selain tidak mengeluarkan dana juga ada rasa kepuasan tersendiri, walaupun mereka harus berjalan 500-1.500 meter dari rumah.
3. Masalah dana, untuk mendapatkan dana tunai untuk membuat jamban dirasakan sangat sulit, selain belum adanya budaya menabung, penghasilan sehari-hari habis untuk biaya
Berdasarkan pengamatan , air sungai di sepanjang sungai kali Serang mulai dari belakang pasar Bintoro Demak sampai kampung Bong/Jl. Semboja digunakan untuk sarana buang hajat, mandi dan pertanian, secara fisik kondisi air sungainya kurang sesuai dengan syarat-syarat air yang bersih dan sehat. Hal ini bisa dilihat kandungan air sungai yang sudah tercampur dengan bahan pencemar dari limbah pertanian, limbah pasar, tinja manusia, hewan dan lain-lain. Kondisi ini masih diperparah dengan sikap masyarakatnya yang suka buang air besar disepanjang sungai kali Serang tersebut. Oleh karena itu kondisi ini dapat merusak citra positif kota Demak sebagai kota wali yang disebabkan sebagian masyarakatnya yang terbiasa buang air besar di sungai yang kurang memenuhi standar nilai kesehatan, nilai etika dan estetika. Apalagi di wilayah sepanjang sungai kali es termasuk wilayah perkotaan dekat dengan kantor pemerintahan daerah dan merupakan salah satu titik pantau jalur kebersihan kota.
Masalah kesehatan di Indonesia menurut Adam Syamsunir (1979:20) berkisar pada dua hal, yaitu :
1. Masalah kesehatan lingkungan tersebut muncul sebagai akibat masih rendahnya tingkat pendidikan penduduk, masih terikat eratnya masyarakat Indonesia dengan adapt istiadat, kebiasaan, kepercayaan, kultur yang tidak sejalan.
2. Masalah kesehatan tersebut muncul sebagai akibat dari terdapatnya beberapa faktor lingkungan yang jika ditinjau dari segi kesehatan tidak begitu menguntungkan.
Dari pernyataan di atas menunjukkan bahwa pengetahuan, kesadaran mempengaruhi tingkat kebersihan dan kesehatan lingkungan, termasuk kebiasaan buang air besar di sepanjang air sungai. Keadaan ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Swandhini (1991:68) bahwa rendahnya sikap dan pengetahuan tentang kebersihan lingkungan cenderung menimbulkan perilaku negatif terhadap penggunaaan air sungai di Sungai Ciliwung .
Berdasarkan pengamatan penduduk Rt 8 RW 6/ Kampung Bong/Jl. Semboja Kelurahan Bintoro Kecamatan Demak di sepanjang sungai kali es yang buang air besar frekuensinya cukup tinggi. Mereka melakukannya pagi , siang dan malam hari. Konsep Community-Lead Total Sanitation (CLTS) telah masuk ke Indonesia. Kini serangkaian uji coba mulai dilaksanakan di beberapa daerah. Konsep tersebut telah sukses mengubah perilaku masyarakat khususnya di Bangladesh dan India yang biasa membuang air besar (BAB) di tempat terbuka pindah ke jamban. Konsep Community-Lead Total Sanitation (CLTS) tergolong baru di Indonesia. Konsep ini 'diimpor'dari India dan Bangladesh yang telah terlebih dahulu melaksanakan, setelah beberapa wakil Indonesia mengunjungi dua Negara tersebut pada akhir 2004. CLTS memiliki tiga tujuan yakni
(i) mengubah perilaku dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan;
(ii) memberdayakan masyarakat;
(iii) mengurangi tingkat buang air besar (BAB) di daerah terbuka. Berdasarkan pengalaman didua negara itu, CLTS mampu mengubah perilaku dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam waktu yang cukup singkat dibandingkan dengan konsep lainnya. Secara ringkas prosesnya diawali dengan identifikasi kondisi dan fakta mengenai tingkat kesehatan(terutama pola BAB didaerah terbuka) yang ada di desa lokasi program.Kemudian masyarakat diajak untuk berdiskusi mengenai kondisi dan faktatersebutdikaitkan dengan kesehatan, keindahan,atau lainnya. Saat itu masyarakat dihadapkan secara langsung dengan persoalan. Proses ini mempunyai sasaran agar masyarakat
mulai sadar bahwa ternyata selama ini mereka tidak hidup bersih dan sehat dan bertanya bagaimana mengubah kondisi mereka. Kesadaran masyarakat tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan memberikan informasi sederhana mengenai hal-hal yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengatasi kondisi kesehatan di daerahnya.
Berdasarkan pengamatan penduduk Rt 8 RW 6 kampung Bong/Jl. Semboja Kelurahan Bintoro Kec. Demak di sepanjang sungai kali Serang yang buang air besar frekuensinya cukup tinggi. Mereka melakukannya pagi , siang dan malam hari. Oleh karena itu konsep CLTS bisa menjadi alternatif untuk memecahkan masalah perilaku negatif masyarakat yang buang air besar disepanjang sungai kali es tersebut.

B. Pembatasan Masalah

Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada beberapa masalah yang berhubungan dengan kebiasaan buang air besar yang dilakukan oleh masyarakat Rt 8 RW 6/ Kampung Bong/Jl. Semboja Kelurahan Bintoro Kecamatan Demak serta penyelesaiannya dengan konsep CLTS.
C. Perumusan Masalah

1. Apakah yang menyebabkan masyarakat Rt 8 RW 6/ Kampung Bong/Jl. Semboja Kelurahan Bintoro di sepanjang sungai kali Serang melakukan kebiasaan buang air besar di sungai kali Serang yang kurang memperhatikan aspek kebersihan dan kesehatan lingkungan
2. Apakah konsep CLTS dapat menjadi alternatif pemecahan masalah penyediaan sarana jamban/wc yang memperhatikan aspek kebersihan dan kesehatan lingkungan.
D. Tujuan penelitian

Tujuan penelitian ini adalah : 1 Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kekurangsadaran masyarakat di Rt 8 Rw 6 kampung Bong/Jl. Semboja yang masih air besar di sepanjang sungai kali Serang kelurahan Bintoro, 2. Untuk menjadi pertimbangan dan usulan sekaligus problem solving kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Demak menangani sanitasi yang baik bagi perbaikan kebersihan dan kesehatan lingkungan masyarakat.


E. Manfaat penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian dan pertimbangan atau Pilot Project Pemda Kabupaten Demak melalui Dinas Kesehatan, Kantor Kimpraswil, Bappeda dalam pemecahan masalah ketidaksediaan jamban/wc keluarga, air bersih, juga tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan khususnya masyarakat disepanjang kampung Bong/Jalan Semboja Rt 8 RW 6 Kelurahan Bintoro.
Perlu dipikirkan apakah konsep program inovatif CLTS ini dapat dikembangkan atau perlu diwujudkan untuk mendukung ketersedian sarana kebersihan dan kesehatan lingkungan.

BAB II

KERANGKA TEORI DAN KERANGKA BERFIKIR

A. Tinjauan Pustaka
1. Kondisi Masyarakat di RT 8 RW 6 kampung Bong Kelurahan Bintoro
Kampung Bong atau jalan Semboja termasuk wilayah RT 8 RW 6 Kelurahan Bintoro kebanyakan berasal dari masyarakat urban yang kebetulan masih satu RW dengan kantor Pemerintah Daerah kabupaten Demak . Sepintas lalu kita melihat termasuk wilayah perkotaan tersebut cukup indah dan rapi . Bahkan beberapa sanitasi yang dimiliki warga cukup bagus. Namun di balik itu ternyata masih banyak dijumpai keluarga yang sama sekali tidak mempunyai WC keluarga. Mereka ini biasa buang air besar di sungai kali es , sawah, atau selokan pada waktu matahari belum terbit atau setelah matahari terbenam. Aktivitas itu terkadang berbarengan dengan mencuci pakaian atau mandi kalau debet air naik.
Menurut studi penelitian kampong Bong dahulu merupakan kawasan kumuh bahkan termasuk PGOT( Perkumpulan Gelandangan Orang Terlantar ), tahun 1974 oleh Bupati Demak kala itu Bapak Winarno Adi Subrata kawasan itu dijadikan perkampungan dengan mendirikan beberapa rumah sederhana untuk kaum urban pada saat itu. Secara turun temurun baru mulai bertambah penduduknya. Namun ironisnya mereka banyak yang belum mempunyai kelengkapan administrasi, bahkan sampai sudah mempunyai anak dan keturunan, baru oleh pemerintah saat itu dibuatlah perkawinan massal sehingga sampai sekarang kampung Bong sudah tertib administrasi keluarga., misalnya kepemilikan KTP, KK dan Kartu Nikah, namun perlu dipertanyakan kepemilikan sertifikat tanah apakah mereka sudah memiliki sertifikat tanah atau belum. Selain itu kampung Bong juga memiliki citra negatif yang sampai sekarang sulit dihilangkan misalnya dianggap sebagai daerah kampung perselikuhan, perkelahian, miras, pencurian dll. Walaupun tidak semua pelakunya warga kampung Bong tetapi kampung tetangga sebelah namun karena sudah terlanjur memperoleh predikat negatif sehingga sampai sekarang predikat itu masih melekat.
Secara geografis wilayah Rt 8 RW 6 Kampung Bong/ Jalan Semboja Kelurahan Bintoro Kecamatan Demak terletak di sebelah barat jalan Semarang – Demak/ depan pasar Bintoro, disebelah utara bersebelahan dengan kelurahan kalicilik. Sepanjang kawasan itu terdapat sungai kali Serang ( Daerah Aliran Sungai ) yang sejak dahulu dimanfaatkan penduduk untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Misalnya untuk mandi, mencuci, buang air besar dan lain-lain. Namun ada fenomena disaat ada ketersediaan air PAM ( terbukti ada Sumur Umbul resmi dari PDAM) dan sarana transportasi yang menunjang di kawasan kampung Bong ternyata kesadaran masyarakat disana akan pentingnya kesadaran etika lingkungan dimana mereka banyak yang buang air besar dan dan kadang mandi di sungai tersebut, apakah dikarenakan kebutuhan akan air bersih dan jamban keluarga belum sepenuhnya dapat dirasakan oleh masyarakat khususnya di sepanjang sungai kali es yang belum sepenuhnya merata atau ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Di samping itu mayoritas masyarakat di kampung Bong adalah pendatang/ urban yang masih ada yang memanfaatkan kuburan cina sebagai tempat tinggalnya dengan strata ekonomi yang kurang. Hal ini didapatkan dari pengamatan bahwa sedikit sekali masyarakat di sana yang mempunyai jamban keluarga, apalagi sumur artesis sangat sedikit, padahal untuk membuat sumur artesis membutuhkan biaya yang besar serta kedalaman tanah yang relatif tinggi ( > 100 meter ), tetapi anehnya ada juga beberapa penduduk yang sudah mempunyai jamban keluarga tetap saja buang air besar disepanjang sungai kali es
2. Peranan air dalam kehidupan manusia
Sejak dilahirkan manusia hidup dalam lingkungan tertentu yang menjadi wadah makhluk hidup ini yang tidak membutuhkan air.hidup misalnya, baik sel hewan maupun sel tumbuhan tersusun oleh air. Lebih dari 70 % isi sel tumbuhan dan lebih dari 67 % isi sel hewan tersusun oleh air ( Suriawiria, 1985 : 5 ).
Manusia dalam kehidupannya setiap akan selalu membutuhkan air. Air dibutuhkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti minum, memasak, membersihkan tubuh dan benda-benda yang dibutuhkan ( Dwijoseputro, 1984 : 173). Jumlah air yang dibutuhkan manusia, berbeda untuk setiap tingkatan kehidupan. Semakin tinggi taraf kehidupan manusia di suatu daerah, semakin meningkat pula jumlah air yang dibutuhkan.
Selain membutuhkan air, manusia juga membutuhkan pangan, udara, permukiman sebagai tempat berlindung dan beristirahat. Tetapi pembangunan juga mempunyai efek negatif yang perlu dicermati manusia. Pembangunan yang berwawasan lingkungan selalu memperhatikan aspek kesehatan lingkungan menjadi tolok ukur keberhasilan pembangunan. Jangan sampai pembangunan hanya menguntungkan pada salah satu golongan saja, akan tetapi berguna untuk seluruh lapisan masyarakat. Bagi mereka yang tinggal di tepi sungai, kebutuhan air tidak hanya dicukupi melalui sumur saja, tetapi sering diambil secara langsung dari sungai. Kenyataan ini menurut Swandhini ( 1991 : 62 ) disebabkan tingkat pendidikan rendah, sehingga tingkat kesadaran tentang pentingnya kebersihan dan kesehatan sanitasi sangat kurang. Berdasarkan pengamatan air sungai kali Serang keruh, berlumpur dan bercampur dengan limbah yang berasal dari pasar Bintoro dan kotoran limbah lain.
3. Parameter Kualitas Kebersihan
Mungkin tidak terlalu jelas dan mudah untuk dipahami, kualitas kebersihan macam apa yang diharapkan muncul dalam suatu penataan lingkungan perkotaan.Jumlah tempat sampah rumah yang tersedia, jumlah tempat sampah di tepijalan, frekuensi pengumpulan dan pengangkutan sampah, keterkumpulan dan keterangkutan sampah, hingga kebersihan sungai yang melalui suatu kawasan merupakan sebagian parameter yang dapat diukur untuk melakukan kuantifikasi dari tingkat kebersihan.
Namun, setiap kawasan atau kota,juga memiliki batasan tertentu dalam system penanganan sampah yang mendukung kebersihan. Batasan utama haruslah didasarkan atas ketersediaan dana untuk penanganan sistem persampahannya. Sejauh masyarakat mampu dan mau untukmembayar retribusi sampah sesuai dengan kualitas kebersihan yang diinginkan,menjadi tugas pemerintah untuk memformulasikan kuantifikasi kebersihan yang diinginkan oleh masyarakat tersebut. Hal ini dapat diukur dengan membuat suatu perhitungan keadaan ideal,mengenai berapa jumlah dana yang dibutuhkan untuk melakukan investasi sistem kebersihan yang terpadu. Mengingat kampung Bong termasuk wilayah perkotaan sungguh disayangkan apabila penanganan sampah atau limbah yang mencemari aliran sungai kali es semakin menambah tingkat pencemaran sungai tersebut hidupannya.
4. Pengelolaan jamban
Sebagai akibat dari proses metabolisme yang berlangsung dalam tubuh manusia,terjadi pemisahan dan pembuangan zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh, diantaranya berbentuk tinja (feces) dan air seni ( urine ). Jika dalam pembuangan kedua zat tersebut tidak baik, tentu dapat mencemari lingkungan. Untuk itu perlu adanya tempat penampungan yang memenuhi syarat kesehatan. Salah satu tempat penampungan yang baik adalah jamban keluarga atau wc. Jamban adalah sarana kebersihan yang sederhana, terdiri dari pelat jongkok dengan pipa leher angsa yang dilengkapi dengan saluran pembuangan berupa cubluk ( Direktorat Penyehatan Lingkungan Pemukiman, 1990 : 15 ).
Ada beberapa jenis jamban yang dapat digunakan oleh masyarakat, misalnya jamban leher angsa, jamban cubluk, jamban empang dan jamban kimia. Akan tetapi yang sesuai dengan syarat kesehatan dan sesuai untuk digunakan oleh masyarakat ada dua macam,yaitu : jamban leher angsa dan jamban cemplung.
Jamban leher angsa, yaitu wc dimana leher lubang closet berbentuk lengkungan yang selalu terisi air yang berguna untuk mencegah bau kotoran serta masuknya kotoran-kotoran kecil. Jamban model ini dilengkapi dengan lubang penampung dan lubang rembesan yang disebut septic tanc. WC ini adalah model terbaik yang dianjurkan, sedangkan jamban cemplung, yaitu jamban dimana tempat injakan atau di bawah bangunan kakus. Jamban model ini ada yang mengandung air berupa sumur-sumur yna banyak ditemui di pedesaan, ataupun yang tidak mengandung air seperti kaleng, tong, lubang tanah yang tidak berair ( Azwar, 1978 : 76-77)
5. Kebiasaan buang air besar di sungai
Kebiasaan adalah reaksi otomatis terhadap situasi khusus yang biasanya diperoleh sebagai hasil ulangan atau belajar ( Drever dalam Simanjutak, 1988). Menurut Hull dan Wolman, 1974), kebiasaan adalah suatu pola perilaku yang menetap yang terjadi berdasarkan hukum reinforcement. Eysenk ( 1975 ) berpendapat bahwa kebiasaan adalah suatu pola perilaku kondisi, atau situasi tertentu yang terbentuk melalui proses belajar. Dasar pembentukan kebiasaan adalah pengulangan respon yang disengaja. Kebiasaan penting untuk penyesuaian diri dan merupakan sesuatu yang sangat unik dan mantap yang selanjutnya mencapai functional autonomy. Dengan demikian kebiasaan merupakan sesuatu yang bebas dari motivasi, yang menyebabkan kebiasaan itu mengembangkan kualitas dinamis seseorang.
Kebiasaan buang air besar juga merupakan suatu perilaku yang terjadi pada seseorang atau masyarakat yang memberikan image positif bagi yang bersangkutan. Jadi seseorang atau masyarakat yang terbiasa dengan buang air besar di sungai dipengaruhi rasa puas, bebas, nyaman akan cenderung mengulang aktifitas tersebut. Pengulangan inilah yang akhirnya membentuk suatu kebiasaan.
6. Konsep Community-Lead Total Sanitation (CLTS)
Konsep Community-Lead Total lSanitation (CLTS) tergolong baru di Indonesia. Konsep ini 'diimpor'dari India dan Bangladesh yang telah terlebih dahulu melaksanakan,setelah beberapa wakil Indonesia mengunjungi dua negara tersebut pada akhir 2004. CLTS memiliki tiga tujuan yakni :
(i)mengubah perilaku dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan;
(ii) memberdayakan masyarakat;
(iii) mengurangi tingkat buang air besar (BAB) di daerah terbuka. Berdasarkan pengalaman didua negara itu, CLTS mampu mengubah perilaku dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam waktu yang cukup singkat dibandingkan dengan konsep lainnya. Secara ringkas prosesnya diawali dengan identifikasi kondisi dan fakta mengenai tingkat kesehatan (terutama pola BAB di daerah terbuka) yang ada di desa lokasi program. Kemudian masyarakat diajak untuk berdiskusi mengenai kondisi dan fakta tersebut dikaitkan dengan kesehatan, keindahan,atau lainnya. Saat itu masyarakat dihadapkan secara langsung dengan persoalan. Proses ini mempunyai sasaran agar masyarakat mulai sadar bahwa ternyata selama ini mereka tidak hidup bersih dan sehat dan bertanya bagaimana mengubah kondisi mereka. Kesadaran masyarakat tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan memberikan informasi sederhana mengenai hal-hal yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengatasi kondisi kesehatan di daerahnya. Konsep ini cukup bagus karena pemicuan tidak memerlukan intervensi dana sama sekali. Hanya saja, konsep ini perlu diuji di lapangan mengingat kondisi budaya India dan Bangladesh dibandingkan masyarakat Indonesia tak bisa disamakan begitu saja. Dalam rangka itu, perlu dibentuk pokja-pokja yang membantu dalam penanganan kesadaran masyarakat supaya tidak buang air besar dan sebisa mungkin menyediakan jamban keluarga. Mungkin penanganan pokja ini bisa menjadi percontohan nantinya di kabupaten Demak yang mayoritas pedesaannya banyak daerah aliran sungai. Kunci penerapan CLTS ini adalah keberadaan natural leader/penggerak yang mumpuni sehingga bisa memicu dan menjaga semangat masyarakatnya, adanya pengawasan terus menerus kepada masyarakat, dan insentif-misalnya berupa kebanggaan bagi masyarakat yang terpicu.Memang dari sisi pemicuan agar masyarakat memiliki jamban, pendekatanini cukup sukses. Tentu pendekatan ini tidak ditujukan Cuma Lubang Tahi Saja, mengingat masih banyak hal yang terkait dengan kesehatan lingkungan.
B. Hipotesis
Berdasarkan dasar teori yang telah dikemukakan penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut :
1. Adanya kekurangsadaran dikalangan masyarakat kampung Bong/ Jalan Semboja Rt 8 Rw 6 Kelurahan Bintoro yang buang air besar di sungai kali Serang terhadap dampaknya bagi kebersihan dan kesehatan lingkungan.
2. Konsep Community-Lead Total Sanitation (CLTS) dapat menjadi salah satu alternatif pemecahan sanitasi buruk di lingkungan tersebut.
3.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini mencoba untuk mengetahui faktor-faktor kendala apa yang dapat dijumpai pada masyarakat di kampung bong jalan semboja Rt 8 Rw 6 yang masih buang air besar di sepanjang sungai kali Serang kelurahan Bintoro demak, serta menawarkan konsep Community-Lead Total Sanitation (CLTS) bagi pemecahannya.
A. Setting

1. Populasi
Penelitian ini dilaksanakan di kampung Bong Rt 8 RW 6 yang sebagian besar wilayahnya di depan sungai kali Serang. Agar lebih jelas kriteria ini diambil karena berbagai faktor :
1. mereka relatif lebih sering menggunakan sungai kali es untuk buang air besar
2. wilayah Rt 8 Rw 6 kampung bong/jalan semboja kelurahan bintoro terletak tepat di depan air sungai
3. jumlah data seluruhnya dapat mewakili seluruh populasi yang menggunakan sungai kali es tersebut untuk buang air besar
Berdasarkan survey pendahuluan poulasi Rt 8 Rw 6 sebesar 54 KK.
2. Sampel
Karena jumlah anggota populasi dalam penelitian ini kurang dari 100 maka menurut Suharsimi Arikunto (1993), apabila subyek penelitian kurang dari 100 maka diambil semuanya dari populasi . Jadi dalam rencana penelitian ini sample ditetapkan 54 KK . Teknik yang dipakai adalah teknik keseluruhan populasi, yang berguna untuk mendapatkan populasi yang lengkap, yaitu dilakukan secara langsung. Dengan tujuan agar semua anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi objek penelitian.

B.Variabel penelitian
Dalam penelitian ini ada dua variabel yaitu variabel bebas terdiri dari konsep CLTS dan variabel terikat terkait dengan kebiasaan buang air besar
C. Teknik pengumpulan data
1. Metode angket
Angket yang digunakan berupa sejumlah pertanyaan tertulis yang diberikan kepada responden untuk memperoleh data tentang kebiasaan buang air besar. Angket yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket bentuk skala, yaitu berupa butir-butir pertanyaan yang disertai alternative jawaban berupa pendapat. Cara penyusunannya berdasarkan usulan Esysenck dan Cown yaitu kombinasi antara model Thurstone dan Likert. Pemberian skor untuk mengetahui tentang kebiasaan buang air besar didasarkan pada skala Guttman. Indikator untuk ubahan ini ada ya atau tidak diberi skor 1 dan tidak 2 apabila pernyataa negative.
2. Metode dokumentasi
Metode ini digunakan peneliti untuk menambah sumber referensi yang diperlukan yaitu data kongkrit jumlah penduduk, pendidikan, pendapatan, denah wilayah kampung Bong khususnya yang dekat dengan aliran sungai kali es.
3. Metode Interview
Metode ini dilakukan untuk mengambil data yang mendukung sekaligus nara sumber yang berkompeten untuk mensinkronkan konsep penelitian bagi solusi pemecahan masalah sanitasi khusunya program CLTS di BAPEDDA, KIMPRASWIL , Dinas Kesehatan Kabupaten Demak.
4. Lembar Observasi
Lembar observasi ini digunakan sebagai bahan penunjang dan pelengkap data yang diperoleh. Adapun lembar observasi ini dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh kevalidan data di lapangan.
D Metode Analisis Data
1. Analisis deskriptif prosentase
Analisis deskriptif prosentase bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang suatu keadaan atau suatu status fenomena ( Suharsimi Arikunto, 1986 : 195 ). Data yang berupa angka dijumlah pada setiap kelompoknya kemudian diolah menjadi bentuk prosentase.
Proses analisis data dimulai dengan menelaah data dari dokumen, kemudian memilah-milahnya ke dalam table. Adapun penentuan indeks persentase dihitung dengan rumus persentase sebagai berikut :

% = n x 100 %
N
Keterangan :
% : persentase nilai yang diperoleh
n : skor yang diperoleh
N : skor maksimal/skor ideal
Menurut Suharsimi Arikunto ( 1986:196 ), visualisasi data sangat mempermudah peneliti dan orang lain untuk memahami hasil penelitian

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Kondisi Umum Daerah Penelitian
Hasil Penelitian diawali dengan deskripsi daerah penelitian. Adapun hal-hal yang perlu diungkap seperti di bawah ini :
a. Keadaan masyarakat di kampung Bong/Jalan Semboja Rt 8 Rw 6 Kelurahan Bintoro menurut tingkat pendidikan
Menurut hasil angket yang disebarkan tingkat pendidikan responden yang paling banyak adalah tamat SD sebesar 54 % ( 29 KK ), tidak tamat sekolah 41 % ( 22 KK) dan tamat SMP 0,03 % ( 2 KK ), tamat SMA 0,01 % ( 1 KK). Agar lebih jelas dapat dilihat pada Tabel I
Tabel I Tingkat Pendidikan formal masyarakat kampung Bong/Jalan Semboja Kelurahan Bintoro Kec. Demak
No. Jenis Pend. Formal Jumlah Prosentase
1. Belum Sekolah - -
2. Tidak sekolah - -
3. Tidak tamat SD 22 41 %
4. Tamat SD/sederajat 29 54 %
5. Tamat SMP/sederajat 2 0,04 %
6. Tamat SMA/sederajat 1 0,01 %
7. Tamat PT/Akademi - -
Jumlah 54 100 %
Sumber : Data Rt 8 RW 6 Kelurahan Bintoro Tahun 2008
b. Keadaan Masyarakat menurut Mata Pencaharian
Menurut hasil penelitian mata pencaharian responden terbesar adalah tukang becak sebesar 27 KK ( 50 % ), pemulung 15 KK ( 27 % ) dan buruh bangunan 2 orang ( 0,04 % ), PNS 1 KK ( 0,01 % ). Agar lebih jelas dapat dilihat pada tabel II, sebagai berikut :

No Jenis Mata Pencaharian Jumlah Presentase
1. Tukang becak 27 50 %
2. Pemulung 15 27 %
3. Buruh pabrik 3 0,05 %
4. Buruh bangunan 2 0,04 %
5. PRT 1 0,01 %
6. Pedagang 2 0,04 %
7. PNS 1 0,01 %
8. Perangkat desa 1 0,01 %
9. Lain-lain 2 0,04 %
10 Jumlah 54 100 %
Sumber : Data Rt 8 Rw 6Kampung Bong/Jalan Semboja Kelurahan Bintoro Demak
Dari tabel II, diatas maka dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk kampong Bong Jalan Semboja Kelurahan Bintoro bermata pencaharian sebagai tukang becak sebanyak 27 KK ( 50 % , dan pemulung sebanyak 15 KK ( 27 % ) serta sektor lainnya hanya sebagian kecil.
c. Jumlah pendapatan masyarakat kampung Bong
Menurut hasil penelitian jumlah pendapatan masyarakat/responden cenderung rendah yaitu kurang dari Rp. 500.000 sebesar 81 % ( 44 KK ) dan hanya 19 % ( 10 KK ) yang jumlah pendapatannya sedang yaitu antara Rp. 750.000 s/d Rp. 1500.000. Perhitungan dapat dilihat pada lampiran III.
D. Keadaan penduduk menurut kepemilikan WC
Menurut hasil penelitian kepemilikan WC pribadi cenderung rendah yaitu 10 KK ( 18 % ) sedangkan sisanya adalah tidak mempunyai WC pribadi 44 KK ( 82 %) .
B. Pembahasan
Pada tabel I Keadaan penduduk Rt 8 Rw 6 kampung bong/ Jl. Semboja Kelurahan Bintoro menurut tingkat pendidikan dapat diamati bahwa pendidikan formal masyarakatnya tertinggi adalah hanya tamat SD/sederajat (54 %) sehingga kesadaran tentang kebiasaan buang air besar yang negative masih sangat kurang. Sebenarnya di tiap pertemuan rutin RT 8 sering disinggung atau lewat pengajian namun sulit sekali karena alasan dana dan karakteristik khas warganya. Di samping itu kegiatan pokja dasa wisma kebanyakan hanya diikuti oleh ibu-ibu yang sudah tua sementara yang masih usia produktif banyak yang bekerja sehingga kurang mencapai sasaran. Kondisi ini dapat dieliminir dengan pendekatan CLTS yang komprehensip jika tingkat pencapaian sasaran target terpenuhi namun terbentur kendala yaitu kekurangsadaran masyarakatnya akan pentingnya kesehatan lingkungan.
Pada tabel II Keadaan masyarakat menurut mata pencaharian terlihat bahwa sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai tukang becak ( 50 % ) dan pemulung ( 27 % ) berarti kondisi ini dapat memperkuat tafsiran bahwa mereka umumnya dalam kondisi miskin sehingga untuk dapat memikirkan aspek kebutuhan air yang bersih belum menjadi program utama. Bahkan walaupunberstatus sebagai tukang becak kenyataannya para bapak banyak yang menganggur dan justru para istri yang bekerja relatif tetap misalnya menjadi PRT, Jadi jika para suami mempunyai pendapatan rata-rata kurang dari Rp. 500.000 dan para istri kurang dari 150.000 ( karena hanya jadi buruh cuci dll). Dapat dibayangkan betapa sulitnya perekonomian mereka untuk sekadar mengurusi masalah jamban keluarga. Berdasarkan hasil studi, dari seluruh keluarga di wilayah Rt 8 Rw 6/Kampung Bong sebanyak 18 persen mempunyai WC pribadi ( 10 KK ) dan sisanya 82 persen tidak mempunyai ( 44 KK). Dari mereka yang tidak punya WC, 37 KK buang air besar di sungai kali es (84 persen), dan ikut buang di WC tetangga yang baik hati 7 KK (16 persen), Kemudian sebanyak 92 persen di kali, 0,05 persen dikolam/blumbang, dan 0,03 persendi tempat lain seperti kebun, pekarangan,
dan sebagainya. Jumlah hajat yang langsung di buang ke sungai kali cukup mencemari . Bila setiap hari manusia buang hajat 0,2 kg, maka akan ada 7,4 kgper hari yang dibuang langsung ke sungai/alam bebas atau 222 kg per bulan (kira-kira 1 truk penuh-hajat). Beberapa alasan mendasari mengapa
warga kampung Bong tidak membangun jamban/WC pribadi:
�� Alasan utama:
�� Kesulitan investasi awal karena untuk membuat jamban dibutuhkan biaya lebih dari 1 juta
�� Tidak ada tempat
�� Alasan lain:
�� Belum mapan
�� Begini sudah cukup
�� Lain- Lain
Konsep CLTS dapat dikembangkan disini walaupun untuk pengadaan dan Diversifikasi Sumur PDAM tahun 2008 sudah diajukan oleh Pemkab melalui Kantor Bappeda dengan prioritas adalah 9 desa yaitu desa Jetak wedung, Mutih kulon Wedung, Solourip Kebonagung, Doreng Wonosalam, Tlogorejo Karangawen, Pundenarum Guntur, Banyumeneng Mranggen, Karangasem Sayung. Bahkan Proyek ini rencananya akan dilaksanakan oleh Dinas Kimpraswil ( Sumber : Bappeda dan Kimpraswil Kab. Demak tahun 2008 ). Namun sungguh disayangkan proyek ini belum menyentuh di kampung Bong yang nota bene daerah perkotaan dan sangat membutuhkan. Apalagi untuk menangani masalah etika dan norma masyarakat yang buang air besar di sana. Dari hasil survey kebanyakan masyarakat setuju apabila konsep CLTS dapat diterapkan pada pengadaan jamban keluarga dengan konsep 3 in 1 atau 3 closet 1 septic tank, artinya bisa ditanggung 3 KK dengan masing-masing mempunyai 3 closet tetapi cukup 1 septic tank saja sudah sangat membantu, di samping itu warga mau mengkredit mikro tanpa bunga atau jika ada bunga cukup sedikit saja dan tidak memberatkan. Memang bantuan dari BKM kurang lebih 4 bulan yang lalu sudah dapat dinikmati masyarakat namun kebanyakan digunakan untuk kredit usaha kecil dan belum ada yang menyentuh ke permasalahan jamban keluarga.
Data dari hasil perhitungan etika dan estetika dari angket diperoleh data presentase, responden yang memiliki rasa malu ( 97 % ), tidak malu (3 %), jijik ( 31 % ), tidak jijik ( 69 % ). Jadi menurut pandangan mereka kebiasaan buang air besar di sungai kali es merupakan rutinitas yang biasa mereka terpaksa dilakukan tapi aneh mereka tidak jijik terhadap keadaan tersebut. Hal diperkuat dari keterangan sebagian besar warga kampung Bong Rt 8 Rw 6 yang buang air besar pada pagi sekitar jam 5 dan malam jam 19.00. Walaupun pada siang hari ada yang buat hajat di sungai tersebut namun intensitasnya sangat sedikit. Ini membuktikan bahwa mereka relative malu buang hajat dilihat oleh orang lain. Atau dapat disimpulkan kebiasaan buang air besar ini terpaksa dilakukan karena berbagai hal sejak dulu dan turun temurun. Tidak kurang sindiran halus sering diungkapkan oleh para pemuka kampung Bong, namun sampai sekarang belum efektif karena kompleksitas permasalahannya. Walaupun sudah ada sumur PDAM yang dapat dimanfaatkan oleh masyrakat di sana namun umumnya hanya untuk keperluan memasak , mandi/ sebagian dan air minum saja sedangkan buang air besar sebagian besar masyarakat tetap melakukannya. Apabila CLTS ini bisa diterapkan setidaknya sedikit demi sedikit kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan akan tercipta.












BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil Penelitian dan pembahasan hasil penelitian maka dapat diambil kesimpulan :
1. Pembangunan sarana sanitasi sangat penting. Ini tidak hanya memberikan keuntungan bagi rumah tangga yang memilikinya, tapi jauh dari itu untuk masyarakat secara lebih luas. Sanitasi yang baik akan mengurangi penyebaran penyakit secara signifikan. Program CLTS dapat menyeimbangkan antara aspek kebutuhan sanitasi juga dilingkupi kesadaran berwawasan kepribadian lingkungan.
2. Keterbatasan sumber daya-terutama dana-seharusnya tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan sektor ini. Dan sejatinya masih banyak alternatif jalan yang bisa ditempuh guna memperbaiki kondisi sanitasi ini. Hanya saja memang butuh kepedulian, kesungguhan, dan waktu.
3. Segala bentuk dana yang dikucurkan untuk peningkatan sanitasi tidak akan membuahkan hasil apabila tidak diiringi dengan perubahan perilaku masyarakat berkaitan dengan sanitasi. Layak dipertimbangkan konsep CLTS ini untuk menggabungkan kredit sanitasi dengan bentuk-bentuk kredit lain yang lebih menguntungkan seperti program kredit untuk usaha mikro dan layanan penyediaan air, sehingga dapat dibangun mekanisme subsidi silang.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan penelitian bahwa konsep CLTS dapat menjadi alternatif pemecahan bagi kebiasaan buang air besar yang dilakukan oleh masyarakat di Rt 8 Rw 6 kampung Bong Kelurahan Bintoro maka disarankan agar konsep ini bisa tindaklanjuti oleh dinas terkait dengan memperhatikan asas pemerataan dan keadilan. Mengingat begitu kompleksnya permasalahan di kampung Bong ini diharapkan Pemda Demak dapat menindaklanjuti dengan memperhatikan kebutuhan mendesak sanitasi di sana, apalagi kampung bong termasuk wilayah perkotaan yang justru dapat merusak citra positif kota Demak. Khususnya bagi masyarakat kampung bong perlu ditumbuhkembangkan adalah sikap dan kesadaran akan pentingnya kebersihan dan kesehatan lingkungan, jika perlu bergotong royong untuk dapat mewujudkan kampung yang bersih, tertata dan mempunyai rasa etika dan estetika yang tinggi. Kesadaran ini dapat tumbuh jika dibarengi dengan kemauan dan didukung oleh pihak yang berkompeten

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1992. Bagaimana menciptakan Rumah Yang Sehat dalam Lingkungan Yang Sehat. Semarang : Pemda TK I Jawa Tengah.
_______, 1990. Penanganan Air Limbah. Jakarta : DPU.
Arikunto, Suharsimi. 1986. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT Bumi Aksara.
Azwar, Azrul. 1997. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Mahara.
Dwijoseputro. 1984. Dasar-dasar Mikrobiologi. Malang : Djambatan.
Direktorat Penyehatan Lingkungan Pemukiman. 1990. Penanganan Air Limbah. Jakarta : DPU
Hull & Wolman. 1974. Basic Microbiology. New York : McGraw-Hill Book Company.
http : // www.ampl.or.id
Lase. 1992. Pencemaran Lingkungan Di Mana- Mana. Lembaga Demografi Universitas Indonesia.
Simanjuntak. 1994. Kesehatan lingkungan dan Keluarga. Yogyakarta : Kanisius.
Suriawiria, U. 1986. Mikrobiologi Air dan Dasar- Dasar Pengelolaan Buangan Secara Biologis. Bandung : PT Alumni
Swandhini, Endah. 1991. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Penduduk Terhadap Penggunaan Air Sungai Ciliwung. Jakarta : Gramedia
Syamsunir, Adam. 1979. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Mutiara Jakarta